Rabu, 18 Mei 2016

Harimau! Harimau!
Karya Mochtar Lubis





Judul novel : Harimau! Harimau!
Penulis : Mochtar Lubis
Tahun : 1992
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Jumlah halaman : 214
Sinopsis :
Hutan adalah tempat tinggal dari berbagai makhluk hidup, berbagai jenis tanaman dan hewan hidup di sana. Hutan juga menjadi sumber pencaharian dari berbagai orang untuk mendapatkan nafkah dengan mengumpulkan hasil hutan. Seperti tujuh orang di sebuah kampung yang menelusuri tiap sudut hutan untuk mendapatkan dammar kemudian di jual untuk mendapatkan uang. Tujuh orang tersebut adalah Buyung, Sutan, Sanip, Talib, Wak Katok, Pak Haji dan Pak Balam . Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda-beda yang kemudian bersama-sama melakukan sebuah perjalanan di dalam hutan untuk mencari damar. Buyung yang termuda diantara mereka, seorang pemuda berusia Sembilan belas tahun. Sutan berumur dua puluh tahun dan telah berkeluarga. Sanip berumur dua puluh lima tahun yang juga telah berkeluarga dan mempunyai empat orang anak. Talib berumur dua puluh tujuh tahun yang telah memiliki istri dan mempunyai tiga anak. Wak katok berumur lima puluh tahun, dia terkenal di kampung sebagai pemburu yang mahir. Pak Haji, orang yang paling tua diantara mereka. Berumur enam puluh tahun dan dia di segani di kampungnya. Mereka telah berada di dalam hutan selama seminggu, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk kembali di kampung melepas kerinduan dengan keluarga yang mereka tinggalkan. Dan yang terakhir adalah Pak Balam, ia adalah orang yang peling pendiam diantara mereka.
Di kampung mereka adalah sosok yang baik. Pak Haji dan Wak Katok di segani oleh warga kampung, karena mereka dianggap sebagai orang yang di tuakan dan dihormati. Wak Katok sendiri adalah orang pintar yang berilmu, seorang dukun sehingga banyak orang yang datang meminta bantuannya. Konon katanya Wak Katok dapat membunuh lawannya tanpa menyentuhnya sedikitpun. Banyak orang sakit yang datang meminta ramuan agar mereka sembuh dari penyakitnya. Ada juga yang mendatanginnya hanya untuk memintanya menyantet orang agar orang yang dia santet meninggal. Nama Wak Katok memang sangat terkenal.
Buyung dan kawan-kawannya ingin belajar ilmu pada Wak Katok agar bisa dengan mudah memikat hati gadis. Namun Wak Katok enggan megajari mereka. Buyung telah lama jatuh cinta pada Zaitun, anak Wak Hamdani teman ayahhnya. Namun Zaitun acuh tak acuh pada Buyung. Buyung dan Zaitun telah berteman sejak kecil, namun lama berpisah dan tidak pernah bertemu lagi. Sekalinya bertemu Zaitun sudah menjadi seorang gadis yang cantik. Walaupun sikap Zaitun acuh tak acuh pada Buyung, namun kadang ia tersenyum manis pada Buyung dan bersikap baik padanya. Zaitun sebenarnya juga jatuh cinta pada Buyung.
Sanip, Sutan dan Talib mengetahui jika Buyung jatuh cinta Zaitun. Mereka sering menggoda Buyung karena dia tidak berani menungkapkan perasaannya dan masih polos. Namun sebenarnya mereka baik pada Buyung. Di sisi lain, di dalam hutan ada seorang yang di takuti orang kampung karena siapa saja yang berani melawannya akan mati karena dia mempunyai ilmu gaib. Wak Hitam namanya. Penampilannya memang menakutkan dengan pakaian serba hitam dan rupanya seram. Dia mempunyai banyak istri. Bahkan setiap tahun dia menikah dengan gadis yang muda. Konon katanya dia menikahi gadis muda untuk menambah ilmunya dan agar dia awet muda. Di dalam hutan di sebuah huma, Wak Hitam tinggal bersama istri yang paling muda yang bernama Siti Rubiyah. Siti Rubiyah sangat cantik dan menggoda. Sehingga banyak orang yang heran mengapa dia mau dinikahi oleh Wak Katok, termasuk Sanip. Sanip adalah orang yang mata keranjang. Hingga suatu hari di saat Siti Rubiyah mandi di sungai ia mengintipnya dan bersembunyi di balik semak-semak.
Setelah mereka bertujuh melepas kerinduan di kampung, akhirnya mereka kembali melanjutkan poerjalanan di dalam hutan. Belum sampai setengah hari berjalan, Buyung teringat akan jebakan yang dia buat. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk kembali melihat jebakannya. Siapa tau dia mendapatkan rusa. Benar saja ketika ia kembali, dia melihat di dalam jebakannya ada rusa yang sangat cantik. Rusa itu akan dia berikan pada Zaitun. Di saat itu datang Siti Rubiyah dan menyapa Buyung. Mereka saling bercakap, hingga akhirnya Siti Rubiyah menceritakan penderitaannya sebagai istri Wak Katok yang kejam itu. Dia menceritakan bahwa Wak Katok kasar dalam hal apapun bahkan dia di ancam untuk membunuhnya jika dia menceritakan hal itu kepada orang orang lain. Tanpa sadar Buyung hanyut dan iba terhadap Siti Rubiyah. Mereka terhasut hasutan setan dan melakukan hal yang seharusnya tidak mereka lakukan. Buyung merasa berdosa dan selalu mengingat Zaitun, dia merasa telah mengkhianati Zaitun.
Ketika dia kembali ke hutan, ia berjanji untuk tidak menceritakan hal itu kepada siapapun. Dia bersikap seperti biasa agar yang lain tidak mencurigainya. Setelah makan dan beristirahat mereka melanjutkan perjalanan. Mereka harus berhati-hati karena di dalam hutan tersebut ada harimau yang siap untuk menerkam mereka jika harimau itu mengetahui keberadaan mereka. Pagi harinya Buyung dan yang lain, memburu seekor rusa, dan disini petaka datang. Rusa tersebut disembelih, dikuliti lalu dibakar untuk bahan makanan di jalan. Namun sebenarnya rusa itu adalah incaran seekor harimau yang sedang lapar. Pada malam hari mereka beristirahat dan menyalakan api. Namun hal yang tak terduga datang. Pak Balam di serang harimau hingga terluka parah. Pak Balam langsung ditolong yang lain, dan menutup lukanya dengan sobekan kain. Saat sedang merintih kesakitan, pak Balam mengatakan bahwa mereka harus mengakui dosa-dosa mereka karena harimau itu di kirim tuhan untuk menghukum mereka. Saat itu juga pak Balam menceritakan dosa-dosa yang telah di lakukan oleh Wak Katok, dia telah membunuh dan menyakitin banyak orang. Mendengar cerita pak Balam, Wak Katok hanya terdiam dan yang lain saling pandang. Mereka berfikir apakah benar yang dikatakan pak Balam.
Mereka melanjutkan perjalanan dan membawa pak Balam dengan sebuah usungan yan mereka buat. Di dalam hati mereka seakan bertanya-tanya apakah benar yang di katakan pak Balam? Bahwa harimau itu di datangkan tuhan untuk menghukum mereka. Saat malam tiba Wak Katok membacakan mantera-mantera dan menerawang apakah harimau itu harimau biasa atau harimau siluman. Wak Katok akhirnya menyimpulkan bahwa harimau itu adalah harimau biasa. Semuanya merasa lebih lega mendengar perkataan Wak Katok. Perjalanan di lanjutkan lagi, namun kpndisi pak Balam semakin parah. Lukanya menjadi membusuk dan sekarang pak Balam demam. Pak Balam tak henti-hentinya berkata “akuilah dosa kalian..akuilah dosa kalian”. Hingga petaka datang lagi ketika Tali yang sedang kencing diserang harimau, namun sayang nyawa Talib tidak terselamatkan lagi. Talib telah meninggal. Setelah mereka menguburkan Talib, mereka melanjutkan perjalanan kembali. Saat itu keadaan pak Balam sudah sangat memprihatikan, keadaan diantara hidup dan mati. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat. Wak Katok dan pak haji membuat keputusan untuk memburu harimau tersebut. Wak Katok, Buyung dan Sanip pergi untuk berburu dan membunuh harimau itu agar tidak ada korban lagi. Sedangkan pak haji dan Sutan menjaga pak Balam dan tinggal di hutan. Sutan merasa risih mendengar rintihan pak Balam yang mengatakan bahwa harus mengakui dosa-dosanya. Sutan sangat geram dan ingin membunuh pak Balam namun niatan itu ia urungkan. Ia memutuskan untuk pergi meninggal pak haji dan pak Balam untuk menuyusul memburu harimau. Saat Wak Katok, Buyung, dan Sanip sedang beristirahat di pinggir sungau. Buyung mendengar teriakan orang yang memanggil-manggil namun tidak jelas suaranya. Hingga akhirnya mereka semua mendengar teriakan orang yang berteriak dan kesakitan. Mereka sadar orang tersebut diserang harimau, Buyung mengajak Wak Katok dan Sanip untuk menolongnya. Namun Wak Katok menolak dengan alasan mereka sama aja menyerahkan diri mereka kepada harimau itu. Sanip juga sependapat dengan Wak Katok. Akhirnya Buyung menuruti perkataan mereka. Mereka akhirnya bergegas untuk meninggalkan tempat itu. Melanjutkan memburu harimau namun setelah berjalan beberapa jam mereka tidak mendapatkan tanda-tanda kedatangan harimau atau bekas harimau. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke tempat pak haji, Sutan dan pak Balam. Ketika pak haji melihat kedatangan Buyung dan yang lain, pak haji langsung menanyakan apakah mereka bertemu dengan Sutan. Mereka terdiam dan seketika tersadar suara yang di dengar mereka adalah suara Sutan yang mungkin telah mati di serang harimau. Pak Balam langsung berkata dengan rintih “akui dosa kalian..akui dosa kalian” hingga akhirnya pak Balam juga meninggal. Setelah menguburkan pak Balam, mereka melanjutkan perjalanan.
Mereka sekarang tinggal berempat, mereka memutuskan untuk menuju ke tempat Sutan saat diserang harimau. Wak Katok memimpin perjalanan dengan senapan di tangannya. Mereka sebenarnya tidak mengetahui bahwa sebenarnya Wak Katok mempunyai ketakutan yang luar biasa di dalam dirinya, hanya saja dia pandai menyembunyikan rasa takutkan itu di depan teman-temannya. Maka dari itu dia sengaja untuk memilih jalan pintas agar mereka cepat sampai di tempat kejadian. Bukan semakin cepat mereka sampai, mereka malah tersesat di dalam hutan. Sepertinya itu adalah akal-akalan Wak Katok agar mereka tidak kembali ke tempat itu dan bertemu dengan harimau. Namun Wak Katok bersikap seakan tidak tau dan malah menyuruh beristirahat saja. Hari sudah mulai gelap dan mereka mnenyalakan api unggun. Saat mereka hanya diam karena letih dan lelah, Buyung memecahkan suasana dengan menawarkan kepada Wak Katok untuk membersihkan dan mengecek senapan jika saja senapan itu rusak karena terkena air. Namun tawaran itu di tolak mentah-mentah oleh Wak Katok dank arena rasa takutnya sudah mendalam ia malah menuduh Buyung berniat untuk mengambil alih kuasa dan memegang senapan itu. Wak Katok dengan berteriak dan dengan nada mengancam mengarahkan senapan itu ke arah Buyung. Wak Katok malah mengancam jika Buyung tidak mengakui dosa-dosanya dia akan menembak Buyung. Namun Buyung hanya diam saja, tidak membuka mulut sedikitpun. Sampai akhinya ketika Wak Katok akan menembak senapan itu, harimau datang dan mengejutkan mereka. Saat Wak Katok akan menembak kearah harimau itu, benar aja ternyata senapan itu rusak kenal air dan harus diganti mesiunya. Jika dia menuruti perkataan Buyung tidak seperti ini jadinya. Dengan cepat Buyung mangambil kayu dari api unggun dan mengarahkan kearaha harimau itu, dan harimau itu pergi.
Setelah kejadian itu, Wak Katok mngusir Buyung, Sanip dan pak haji agar menjauh darinya dan pergi sendiri. Mereka akhirnya meninggalkan Wak Katok sendirian di tengah hutan dengan senapan itu. Wak Katok menyesal mengusir temannya, karena dia jadi sendir di dalam hutan itu. Buyung, Sanip dan pak haji menyusun sebuah rencana agar mereka mendapatkan seneapan itu dari tangan Wak Katok. Mereka kembali ke tempat Wak Katok berada dan menyerang Wak Katok. Perkelahian Wak Katok dan Buyung terjadi, sampai Wak Katok melepas tembakan dan malah mengenai pak haji hingga pak haji jatuh diatas tanah. Sanip dengan sigap mangambil kayu dan memukul Wak Katok hingga pingsan. Buyung dan Sanip memeriksa keadaan pak haji. Pak haji tidak terselamatkan dengan luka parah di bagian dadanya. Tinggal Buyung dan Sanip seorang, secara tidak langsung kepemimpinan di pegang oleh Buyung, Buyung dan Sanip mengikat tangan dan kaki Wak Katok agar dia tidak bisa pergi dan menyerang, karena mereka berencana untuk membawa Wak Katok ke kmpung agar di hukum dan di bawa ke kantor polisi. Saat Wak Katok tersadar, mereka melanjutkan perjalanan memburu harimau. Hingga akhirnya mereka menjadi kan Wak Katok sebagai umpan agar harimau itu datang dan bisa di bunuh. Wak katok merasa ketakutan yang sangat dalam saat melihat harimau mendekatinya hingga akhirnya ia pingsan. Buyung dan Sanip yang menjaga dari kejauhan mengawasi. Buyung siap untuk menembak harimau itu saat akan melompat menyerang Wak Katok. Tembakan Buyung tepat sasaran dan berhasil menembak harimau itu dan harimau itu mati. Setelah harimau itu mati, mereka menguliti harimau tersebut dan membawanya ke kampung bersama dengan Wak Katok dengan keadaan terikat agar para warga tau Wak Katok sebenarnya orang yang jahat dan akan menyerahkannya ke polisi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar