Harimau!
Harimau!
Karya
Mochtar Lubis
Judul
novel : Harimau! Harimau!
Penulis
: Mochtar Lubis
Tahun
: 1992
Penerbit
: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Jumlah
halaman : 214
Sinopsis :
Hutan
adalah tempat tinggal dari berbagai makhluk hidup, berbagai jenis
tanaman dan hewan hidup di sana. Hutan juga menjadi sumber
pencaharian dari berbagai orang untuk mendapatkan nafkah dengan
mengumpulkan hasil hutan. Seperti tujuh orang di sebuah kampung yang
menelusuri tiap sudut hutan untuk mendapatkan dammar kemudian di jual
untuk mendapatkan uang. Tujuh orang tersebut adalah Buyung, Sutan,
Sanip, Talib, Wak Katok, Pak Haji dan Pak Balam . Mereka berasal
dari latar belakang yang berbeda-beda yang kemudian bersama-sama
melakukan sebuah perjalanan di dalam hutan untuk mencari damar.
Buyung yang termuda diantara mereka, seorang pemuda berusia Sembilan
belas tahun. Sutan berumur dua puluh tahun dan telah berkeluarga.
Sanip berumur dua puluh lima tahun yang juga telah berkeluarga dan
mempunyai empat orang anak. Talib berumur dua puluh tujuh tahun yang
telah memiliki istri dan mempunyai tiga anak. Wak katok berumur lima
puluh tahun, dia terkenal di kampung sebagai pemburu yang mahir. Pak
Haji, orang yang paling tua diantara mereka. Berumur enam puluh tahun
dan dia di segani di kampungnya. Mereka telah berada di dalam hutan
selama seminggu, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk kembali di
kampung melepas kerinduan dengan keluarga yang mereka tinggalkan. Dan
yang terakhir adalah Pak Balam, ia adalah orang yang peling pendiam
diantara mereka.
Di
kampung mereka adalah sosok yang baik. Pak Haji dan Wak Katok di
segani oleh warga kampung, karena mereka dianggap sebagai orang yang
di tuakan dan dihormati. Wak Katok sendiri adalah orang pintar yang
berilmu, seorang dukun sehingga banyak orang yang datang meminta
bantuannya. Konon katanya Wak Katok dapat membunuh lawannya tanpa
menyentuhnya sedikitpun. Banyak orang sakit yang datang meminta
ramuan agar mereka sembuh dari penyakitnya. Ada juga yang
mendatanginnya hanya untuk memintanya menyantet orang agar orang yang
dia santet meninggal. Nama Wak Katok memang sangat terkenal.
Buyung
dan kawan-kawannya ingin belajar ilmu pada Wak Katok agar bisa dengan
mudah memikat hati gadis. Namun Wak Katok enggan megajari mereka.
Buyung telah lama jatuh cinta pada Zaitun, anak Wak Hamdani teman
ayahhnya. Namun Zaitun acuh tak acuh pada Buyung. Buyung dan Zaitun
telah berteman sejak kecil, namun lama berpisah dan tidak pernah
bertemu lagi. Sekalinya bertemu Zaitun sudah menjadi seorang gadis
yang cantik. Walaupun sikap Zaitun acuh tak acuh pada Buyung, namun
kadang ia tersenyum manis pada Buyung dan bersikap baik padanya.
Zaitun sebenarnya juga jatuh cinta pada Buyung.
Sanip,
Sutan dan Talib mengetahui jika Buyung jatuh cinta Zaitun. Mereka
sering menggoda Buyung karena dia tidak berani menungkapkan
perasaannya dan masih polos. Namun sebenarnya mereka baik pada
Buyung. Di sisi lain, di dalam hutan ada seorang yang di takuti orang
kampung karena siapa saja yang berani melawannya akan mati karena dia
mempunyai ilmu gaib. Wak Hitam namanya. Penampilannya memang
menakutkan dengan pakaian serba hitam dan rupanya seram. Dia
mempunyai banyak istri. Bahkan setiap tahun dia menikah dengan gadis
yang muda. Konon katanya dia menikahi gadis muda untuk menambah
ilmunya dan agar dia awet muda. Di dalam hutan di sebuah huma, Wak
Hitam tinggal bersama istri yang paling muda yang bernama Siti
Rubiyah. Siti Rubiyah sangat cantik dan menggoda. Sehingga banyak
orang yang heran mengapa dia mau dinikahi oleh Wak Katok, termasuk
Sanip. Sanip adalah orang yang mata keranjang. Hingga suatu hari di
saat Siti Rubiyah mandi di sungai ia mengintipnya dan bersembunyi di
balik semak-semak.
Setelah
mereka bertujuh melepas kerinduan di kampung, akhirnya mereka kembali
melanjutkan poerjalanan di dalam hutan. Belum sampai setengah hari
berjalan, Buyung teringat akan jebakan yang dia buat. Hingga akhirnya
dia memutuskan untuk kembali melihat jebakannya. Siapa tau dia
mendapatkan rusa. Benar saja ketika ia kembali, dia melihat di dalam
jebakannya ada rusa yang sangat cantik. Rusa itu akan dia berikan
pada Zaitun. Di saat itu datang Siti Rubiyah dan menyapa Buyung.
Mereka saling bercakap, hingga akhirnya Siti Rubiyah menceritakan
penderitaannya sebagai istri Wak Katok yang kejam itu. Dia
menceritakan bahwa Wak Katok kasar dalam hal apapun bahkan dia di
ancam untuk membunuhnya jika dia menceritakan hal itu kepada orang
orang lain. Tanpa sadar Buyung hanyut dan iba terhadap Siti Rubiyah.
Mereka terhasut hasutan setan dan melakukan hal yang seharusnya tidak
mereka lakukan. Buyung merasa berdosa dan selalu mengingat Zaitun,
dia merasa telah mengkhianati Zaitun.
Ketika
dia kembali ke hutan, ia berjanji untuk tidak menceritakan hal itu
kepada siapapun. Dia bersikap seperti biasa agar yang lain tidak
mencurigainya. Setelah makan dan beristirahat mereka melanjutkan
perjalanan. Mereka harus berhati-hati karena di dalam hutan tersebut
ada harimau yang siap untuk menerkam mereka jika harimau itu
mengetahui keberadaan mereka. Pagi harinya Buyung dan yang lain,
memburu seekor rusa, dan disini petaka datang. Rusa tersebut
disembelih, dikuliti lalu dibakar untuk bahan makanan di jalan. Namun
sebenarnya rusa itu adalah incaran seekor harimau yang sedang lapar.
Pada malam hari mereka beristirahat dan menyalakan api. Namun hal
yang tak terduga datang. Pak Balam di serang harimau hingga terluka
parah. Pak Balam langsung ditolong yang lain, dan menutup lukanya
dengan sobekan kain. Saat sedang merintih kesakitan, pak Balam
mengatakan bahwa mereka harus mengakui dosa-dosa mereka karena
harimau itu di kirim tuhan untuk menghukum mereka. Saat itu juga pak
Balam menceritakan dosa-dosa yang telah di lakukan oleh Wak Katok,
dia telah membunuh dan menyakitin banyak orang. Mendengar cerita pak
Balam, Wak Katok hanya terdiam dan yang lain saling pandang. Mereka
berfikir apakah benar yang dikatakan pak Balam.
Mereka
melanjutkan perjalanan dan membawa pak Balam dengan sebuah usungan
yan mereka buat. Di dalam hati mereka seakan bertanya-tanya apakah
benar yang di katakan pak Balam? Bahwa harimau itu di datangkan tuhan
untuk menghukum mereka. Saat malam tiba Wak Katok membacakan
mantera-mantera dan menerawang apakah harimau itu harimau biasa atau
harimau siluman. Wak Katok akhirnya menyimpulkan bahwa harimau itu
adalah harimau biasa. Semuanya merasa lebih lega mendengar perkataan
Wak Katok. Perjalanan di lanjutkan lagi, namun kpndisi pak Balam
semakin parah. Lukanya menjadi membusuk dan sekarang pak Balam
demam. Pak Balam tak henti-hentinya berkata “akuilah dosa
kalian..akuilah dosa kalian”. Hingga petaka datang lagi ketika Tali
yang sedang kencing diserang harimau, namun sayang nyawa Talib tidak
terselamatkan lagi. Talib telah meninggal. Setelah mereka menguburkan
Talib, mereka melanjutkan perjalanan kembali. Saat itu keadaan pak
Balam sudah sangat memprihatikan, keadaan diantara hidup dan mati.
Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat. Wak Katok dan
pak haji membuat keputusan untuk memburu harimau tersebut. Wak Katok,
Buyung dan Sanip pergi untuk berburu dan membunuh harimau itu agar
tidak ada korban lagi. Sedangkan pak haji dan Sutan menjaga pak Balam
dan tinggal di hutan. Sutan merasa risih mendengar rintihan pak Balam
yang mengatakan bahwa harus mengakui dosa-dosanya. Sutan sangat geram
dan ingin membunuh pak Balam namun niatan itu ia urungkan. Ia
memutuskan untuk pergi meninggal pak haji dan pak Balam untuk
menuyusul memburu harimau. Saat Wak Katok, Buyung, dan Sanip sedang
beristirahat di pinggir sungau. Buyung mendengar teriakan orang yang
memanggil-manggil namun tidak jelas suaranya. Hingga akhirnya mereka
semua mendengar teriakan orang yang berteriak dan kesakitan. Mereka
sadar orang tersebut diserang harimau, Buyung mengajak Wak Katok dan
Sanip untuk menolongnya. Namun Wak Katok menolak dengan alasan mereka
sama aja menyerahkan diri mereka kepada harimau itu. Sanip juga
sependapat dengan Wak Katok. Akhirnya Buyung menuruti perkataan
mereka. Mereka akhirnya bergegas untuk meninggalkan tempat itu.
Melanjutkan memburu harimau namun setelah berjalan beberapa jam
mereka tidak mendapatkan tanda-tanda kedatangan harimau atau bekas
harimau. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke tempat pak haji,
Sutan dan pak Balam. Ketika pak haji melihat kedatangan Buyung dan
yang lain, pak haji langsung menanyakan apakah mereka bertemu dengan
Sutan. Mereka terdiam dan seketika tersadar suara yang di dengar
mereka adalah suara Sutan yang mungkin telah mati di serang harimau.
Pak Balam langsung berkata dengan rintih “akui dosa kalian..akui
dosa kalian” hingga akhirnya pak Balam juga meninggal. Setelah
menguburkan pak Balam, mereka melanjutkan perjalanan.
Mereka sekarang
tinggal berempat, mereka memutuskan untuk menuju ke tempat Sutan saat
diserang harimau. Wak Katok memimpin perjalanan dengan senapan di
tangannya. Mereka sebenarnya tidak mengetahui bahwa sebenarnya Wak
Katok mempunyai ketakutan yang luar biasa di dalam dirinya, hanya
saja dia pandai menyembunyikan rasa takutkan itu di depan
teman-temannya. Maka dari itu dia sengaja untuk memilih jalan pintas
agar mereka cepat sampai di tempat kejadian. Bukan semakin cepat
mereka sampai, mereka malah tersesat di dalam hutan. Sepertinya itu
adalah akal-akalan Wak Katok agar mereka tidak kembali ke tempat itu
dan bertemu dengan harimau. Namun Wak Katok bersikap seakan tidak tau
dan malah menyuruh beristirahat saja. Hari sudah mulai gelap dan
mereka mnenyalakan api unggun. Saat mereka hanya diam karena letih
dan lelah, Buyung memecahkan suasana dengan menawarkan kepada Wak
Katok untuk membersihkan dan mengecek senapan jika saja senapan itu
rusak karena terkena air. Namun tawaran itu di tolak mentah-mentah
oleh Wak Katok dank arena rasa takutnya sudah mendalam ia malah
menuduh Buyung berniat untuk mengambil alih kuasa dan memegang
senapan itu. Wak Katok dengan berteriak dan dengan nada mengancam
mengarahkan senapan itu ke arah Buyung. Wak Katok malah mengancam
jika Buyung tidak mengakui dosa-dosanya dia akan menembak Buyung.
Namun Buyung hanya diam saja, tidak membuka mulut sedikitpun. Sampai
akhinya ketika Wak Katok akan menembak senapan itu, harimau datang
dan mengejutkan mereka. Saat Wak Katok akan menembak kearah harimau
itu, benar aja ternyata senapan itu rusak kenal air dan harus diganti
mesiunya. Jika dia menuruti perkataan Buyung tidak seperti ini
jadinya. Dengan cepat Buyung mangambil kayu dari api unggun dan
mengarahkan kearaha harimau itu, dan harimau itu pergi.
Setelah kejadian
itu, Wak Katok mngusir Buyung, Sanip dan pak haji agar menjauh
darinya dan pergi sendiri. Mereka akhirnya meninggalkan Wak Katok
sendirian di tengah hutan dengan senapan itu. Wak Katok menyesal
mengusir temannya, karena dia jadi sendir di dalam hutan itu. Buyung,
Sanip dan pak haji menyusun sebuah rencana agar mereka mendapatkan
seneapan itu dari tangan Wak Katok. Mereka kembali ke tempat Wak
Katok berada dan menyerang Wak Katok. Perkelahian Wak Katok dan
Buyung terjadi, sampai Wak Katok melepas tembakan dan malah mengenai
pak haji hingga pak haji jatuh diatas tanah. Sanip dengan sigap
mangambil kayu dan memukul Wak Katok hingga pingsan. Buyung dan Sanip
memeriksa keadaan pak haji. Pak haji tidak terselamatkan dengan luka
parah di bagian dadanya. Tinggal Buyung dan Sanip seorang, secara
tidak langsung kepemimpinan di pegang oleh Buyung, Buyung dan Sanip
mengikat tangan dan kaki Wak Katok agar dia tidak bisa pergi dan
menyerang, karena mereka berencana untuk membawa Wak Katok ke kmpung
agar di hukum dan di bawa ke kantor polisi. Saat Wak Katok tersadar,
mereka melanjutkan perjalanan memburu harimau. Hingga akhirnya mereka
menjadi kan Wak Katok sebagai umpan agar harimau itu datang dan bisa
di bunuh. Wak katok merasa ketakutan yang sangat dalam saat melihat
harimau mendekatinya hingga akhirnya ia pingsan. Buyung dan Sanip
yang menjaga dari kejauhan mengawasi. Buyung siap untuk menembak
harimau itu saat akan melompat menyerang Wak Katok. Tembakan Buyung
tepat sasaran dan berhasil menembak harimau itu dan harimau itu mati.
Setelah harimau itu mati, mereka menguliti harimau tersebut dan
membawanya ke kampung bersama dengan Wak Katok dengan keadaan terikat
agar para warga tau Wak Katok sebenarnya orang yang jahat dan akan
menyerahkannya ke polisi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar