Tugas MK Advokasi Sosial
Press Release
27 Desember 2017
Yogyakarta, Indonesia
Jangan pandang difabel sebelah mata dalam dunia kerja
Dunia kerja menuntut kesempurnaan orang dalam bekerja, tdak memandang orang dalam kondisi apa. Bahkan tidak sedikit diperusahaan diterapkan potong gaji ketika karyawan ijin tidak bekrerja, meski dalam kondisi sakit ketika perusahaan sudah menetapkan target penjualan maka karyawan dituntut untuk tetap masuk. Itu berbicara tentang pekerja yang memiliki kesempurnaan fisik. Lalu mengapa dengan orang yang memiliki keterbatasan fisik? Bahkan hampir tidak ditemukan dalam suatu perusahaan yang mau menerimanya. Lantas bagaimana peran negara dalam menangani permasalahan didunia kerja yang berkaitan dengan difabel?
Sebagai pelaksanaan UU No. 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat (UU Penyandang Cacat), telah dikeluarkan Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.: 01.KP.01.15.2002 tentang Penempatan Tenaga Kerja Penyandang Cacat di Perusahaan tertanggal 26 Februari 2002 (SE Menakertrans No. 01/2002). SE Menakertrans No. 01/2002 telah mengamanatkan pada setiap kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi di tingkat Propinsi dan Kabupaten/Kota untuk:
a.mensosialisasikan UU Penyandang Cacat dan PP No. 43 Tahun 1998 tentang Upaya Peningkatan Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat sebagai upaya penempatan tenaga kerja penyandang cacat di perusahaan-perusahaan.
b.melakukan pendataan perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja penyandang cacat secara berkala setiap 3 (tiga) bulan sekali.
c.melaporkan hasil pendataan perusahaan yang telah mempekerjakan Tenaga Kerja penyandang cacat kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi cq. Direktorat Jenderal Binalatpendagri
Perlindungan kesempatan kerja bagi tenaga kerja penyandang cacat diakui dalam UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UU Ketenagakerjaan) yaitu dalam penjelasan pasal 5 dan secara tegas dalam pasal 28. Pasal 28 UU Ketenagakerjaan menyatakan:
“Pengusaha harus mempekerjakan sekurang-kurangnya 1 (satu) orang penyandang cacat yang memenuhi persyaratan jabatan dan kualifikasi pekerjaan pada perusahaannya untuk setiap 100 (seratus) orang pekerja pada perusahaanya”
Hal tersebut sesuai dengan ketentuan pasal 14 jo. penjelasan pasal 14 UU Penyandang Cacat.
Pasal 14 UU Penyandang Cacat:
“Perusahaan negara dan swasta memberikan kesempatan dan perlakuan yang sama kepada penyandang cacat dengan mempekerjakan penyandang cacat di perusahaannya sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan, pendidikan, dan kemampuannya, yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah karyawan dan/atau kualifikasi perusahaan.”
Penjelasan pasal 14 UU Penyandang Cacat:
“Perusahaan harus mempekerjakan sekurang-kurangnya 1 (satu) orang penyandang cacat yang memenuhi persyaratan dan kualifikasi pekerjaan yang bersangkutan, untuk setiap 100 (seratus) orang karyawan.
Perusahaan yang menggunakan teknologi tinggi harus mempekerjakan sekurang-kurangnya 1 (satu) orang penyandang cacat yang memenuhi persyaratan dan kualifikasi pekerjaan yang bersangkutan walaupun jumlah karyawannya kurang dari 100 (seratus) orang.”
Meski aturan sudah dibuat sedemikian rupa, namum pihak perusahaan belum bisa menerima sepenuhnya dalam memenuhi hak kaum difabel untuk bekerja. Dari data yang didapatkan media elektronik tribun dari Dinas Sosial (Dinsos) DIY yang direalis tanggal 18 Maret 2016 menunjukan bahwa jumlah difabel di DIY berjumlah 25.050. Jumlah tersebut terdiri dari laki-laki 13.589 dan perempuan 11.461. Apabila dari perusahaan mau untuk menerima mereka bekerja, maka tidak dipungkiri permasalahan ekonomi dan ketidak berdayaan mereka dapat terminimalisir.
Kemudian timbul pertanyaan, apa bisa mereka bekerja. Mungkin stigma yang terbangun dimasyarakat memandang bahwa mereka tidak bisa apa-apa. Yang mereka lihat hanya kekurangannya belaka, dilain sisi mereka memiliki potensi yang bila dilatih mampu untuk setara dengan kemampuan oang pada umumnya. Terbukti adanya program dari Dinsos yang sudah menyediakan lembaga pelatihan kerja bagi mereka kaum difabel, mampu mendidik dan melatih mereka untuk bekerja dan mandiri sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Mereka yang sudah terlatih bahkan dapat lebih hebat daripada orang biasa. Ketika potensi yang mereka miliki mulai terbangun, tidak heran jika mereka juga bisa mengerjakan pekerjaan orang yang normal. Seperti menjahit, mendesain, servis elektronik, bahkan sampai mahat kayu. Mereka menunjukkan kemampuan maksimal yang mereka miliki. Dari tulisan ini penulis menajak para pelaku usaha untuk memberikan kesempatan mereka bekerja sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Sehingga mereka dapat memenihi kehidupan yang layak seperti orang pada umumnya.
great bisnis 99
Rabu, 27 Desember 2017
Minggu, 17 Juli 2016
Awal Perjalanan Great Husna Corporation
Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang
Apa itu Great Husna Corporation?
Mungkin pertanyaan itu yang terlintas pertama kali dipikiran Anda.
Artikel ini akan menceritakan seluk beluk Great Husna Corporation.
Gambar diatas merupakan bangunan dari toko kelontong, counter dan kos-kosan.
Gambar diatas merupakan bangunan dari toko kelontong, counter dan kos-kosan.
Arti dari Great yaitu dalam bahasa Inggris yang berarti " Yang Terbaik " dan Husna ialah bagian dari Asmaul Husna ( Nama-nama Allah Yang Baik ).
Ya kenapa mengambil nama dalam Islam, karena visi misi yang dilakukan dalam usaha Great Husna menggunakan prinsip dalam Agama Islam. Disamping itu untuk sarana dakwah.
Awal usaha yang dirintis adalah mengembangkan counter handphone, yang pada mulanya dikelola oleh om yang juga mengelola toko kelontong yang dirintis oleh simbah. Ketika itu saya masih duduk dibangku kelas 2 SMA. Bersyukur sekali waktu itu teman sebangku saya yang bernama Rahmat Trianto, mengajariku tentang dunia perhenphonan. Dimana ia sekarang menekuni servis smartphone dan menjadi salah satu kolega bagi Great Husna Cell. Waktu itu ia mengenalkan saya kepada distributor kartu-kartu kuota untuk internet. Dan saya pun melakukan penjualan kuota internet disekolahan lewat sosial media dalam promosinya. Alhamdulillah teman-teman banyak yang order. Karena selain 'kacek' harganya dan melayani Cost on Deliveri (COD).
Selanjutnya setelah lulus SMA. Sayapun melanjudkan keperguruan tinggi. Alhamdulillah diterima di UIN Sunan Kali Jaga. Disaat itu pula om ( Dadang Krisbiyanto ) memberikan kunci sekaligus ruko untuk counter disamping usaha kelontongnya. Disaat itu saya mengajak 2 rekan saya ( Arif Restu Prasetya dan Wicak Aji Pangestu ) untuk merintis counter. Disamping tema sebangku SMAku, karena Antok ( panggilan akrab Rahmat Trianto ) lebih fokus servis smartphone dirumahnya.
Gambar diatas merupakan kamar Rahmat Trianto sebagai tempat kerjanya.
Saya, Restu dan Wicak bersama-sama memodali berdirinya counter. Disamping modal utama dari orang tua.
Setahun berjalan sejak 10 Juni 2015, Alhamdulillah saya menemukan teman SD yang bernama Atta Malik dan kakaknya Saud Malik. Dimana mereka dulunya teman akrab sd. Dan memiliki keinginan untuk mandiri. Dengan membuka usaha counter. Sayapun bersemangat untuk membantu mereka mendirikan counter, baik dari modal, link maupun ilmu2nya ( walaupun ilmu saya pas-pasan ). Counter merka diberi nama Eshan Cell. Eshan dalam bahasa Arab yang berarti selalu dalam berkah Allah. Karena kitaspakat dalam pemberian nama bernafaskan prinsip Islam.
Tulisan diatas merupakan sedikit dari kisah perjalanan Great Husna Corporation. Karena pada prinsipnya, saya membantu orang-orang disekitar yang memiliki jiwa enterprenur untuk mengembangkan usahanya. Semoga tulisan diatas memberikan inspirasi bagi kita semua. Dan semoga apa yang kita usahakan didunia mendapatkan Rahmat, Berkah, Karunia dari Allah Swt. Karena kita didunia hanyalah sementara. Dalam Islam diharuskan berusaha dalam usuran dunia untuk mencari bekal kehidupan diakhirat.
Rabu, 18 Mei 2016
Juragan
Subeyojeka
Karya
Nur Iswantara
Judul :
Juragan Subeyojeka
Penulis :
Nur Iswantara
Penerit :
Media Kreatifa
Tahun :
2009
Jumlah
halaman : 248
Suro
Bejo Yosodimulyo Jayeng Karso atau Subeyojeka atau biasa dipanggil
dengan nama panggilan Juragane adalah seorang yang kaya, gagah
perkasa yang berasal dari dusun Gunungsalam, Gunungmulyo, Sidoayu,
Bantalaningrat. Subeyojeka akan mencalonkan diri sebagai lurah.
Masyon pembantu sekaligus asisten dan penasihat Subeyojeka
mendukungnya seratus persen dan akan membantu juragane untuk
mencalonkan diri sebagai lurah. Masyon sangat akrab dengan juragane,
semua urusan juragane Masyonlah yang mengurusnya. Wajar saja karena
juragane adalah duda. Dia sudah lama menduda, sehingga banyak wanita
atau bahkan wanita yang mempunyai suami rela meminta pisah dari
suaminya untuk kemudian menikah dengan juragane. Termasuk Ratih,
istri Masyon. Dia selalu genit dengan juragane.
Suatu
hari, Subeyojeka mendapatkan sebuah Surat Sheet Komputer (SSK) dari
orang penting di kota Praja Ayodyaningrat. Isi surat tersebut adalah
meminta agar Subeyojeka datang ke kota Praja Ayodyaningrat. Hal
tersebut membuat juragane takut dan bingung mengapa dia diundang
untuk datang ke Ayodyaningrat. Juragane takut jika namanya akan
dicoret dari pencalonan. Masyon sebagai penasihat juragane menasehati
agar juragane berfikiran positif dan tidak menduga-duga. Namun,
juragane tetap saja gelisah. Sehingga dia memutuskan untuk mendatangi
Mbah Dongleng. Seorang peramal terkenal. Akhirnya jurgane dan Masyon
mendatangi Mah Dogleng tersebut. Namun setelah sampai disana, Mbah
Dogleng tidak memberikan sesuatu yang diinginkan juragane. Mbah
Dogleng mengatakan jika urusan politik bukanlah urusan Spriritual.
Akhirnya Subeyojeka dan Masyon pulang dan beberapa hari setelahnya
mereka berangkat ke kota Ayodyaningrat.
Sesampainya
di kota Ayodyaningrat, juragane dan Masyon disambut hangat dengan
seseorang yang menjemputnya di stasiun dan mengantarkan mereka di
hotel. Juragane dan Masyon sangat senang dengan sikap orang
tersebut. Namun tetap saja juragane tidak bisa tidur dengan nyenyak
karena memikirkan pertemuannya dengan pejabat besok. Keesokan
paginya, juragane dan Masyon datang di kantor pemerintahan untuk
bertemu dengan pejabat. Juragane terlihat sangat gelisah dan tegang
saat akan bertemu dengan pejabat tersebut. Setelah menunggu agak
lama, akhinrya juragane dan Masyon bertemu dengan pejabat tersebut.
Juragane terkejut ketika bertemu dengan pejabat tersebut, karena
ternyata pejabat tersebut adalah teman lama juragane yang sudah lama
tidak bertemu lagi. Setelah cukup lama berbasa-basi akhirnya juragane
menanyakan kepada pejabat itu mengapa dia dipanggil ke Ayodyaningrat.
Pejabat tersebut malah tertawa, dia mengatakan bahwa seharusnya
juragane tidak perlu takut dan khawatir karena dia diundang disini
bukan untuk maksud apa-apa. Pejabat itu memberikan sebuah amplop yang
isinya surat gugatan. Dan isi surat tersebut bersifat menjatuhkan
juragane untuk maju di pencalonan. Surat gugatan tersebut berates
namakan Arimbi, calon istri juragane. Sontak hal itu membuat jurgane
dan Masyon kaget. Namun juragane tidak percaya jika yang menulis
surat itu adalah Arimbi. Juragane dan Masyon memutuskan untuk
mengusut kasus itu setelah pulang nanti. Pejabat tersebut juga
memastikan jika nama juragane tidak akan dicoret dari nama
pencalonan.
Berita
tentang surat gugatan tersebut menyebar cepat di dusun. Hampir semua
orang membicarakannya. Sesampainya di dusun Masyon bertindak cepat
untuk mencari siapa yang menulis surat tersebut. Hingga suatu ketika,
saat ronda malam Masyon tidak sengaja lewat di depan rumah Arimbi,
dia melihat jika pintu rumah Arimbi terbuka dan melihat ada seseorang
yang keluar dari dalam rumah Arimbi. Dan tidak salah lagi, yang
keluar dari rumah Arimbi itu adalah Pak Carik. Masyon yang melihat
kejadia itu tidak langsung melaporkannya kepada juargane. Masyon
menunggu waktu yang tepat untuk menceritakan kejadian yang dilihatnya
itu pada juragane.
Waktu
kampanye belum dimulai, namun calon lurah yang lain sudah banyak
mengadakan kampanye namun dengan istilah yang beda. Ada yang
menyebutnya pengajian, kumpulan, atau yang lainnya. Subeyojeka tidak
mengadakan kampanye karena dia masih ingat dengan kata-kata pejabat
bahwa jangan terburu-buru untuk mengadakan kampanye takutnya akan
kontraproduktif, karena itu juragane tidak mengadakan kampanye meski
Masyon menyuruhnya untuk mengadakan kampanye. Namun ketika Masyon
bertanya dengan salah satu mahasiswa yang sedang berada di dusun dan
menanyakan arti dari kata kontraproduktif tersebut, Masyon langsung
memberitahukannya kepada juragane yang ternyata arti dari kata
kontraproduktf itu merugikan. Masyon berfikir jika kampanye yang
merugikan adalah kampanye yang merusak, namun jika dikelola dengan
baik tidak akan merugikan. Hal tersebtu disampaikan kepada juragane
dan juragane mnegerti dan setuju dengan usul Masyon untuk mengadakan
kampanye. Kampanye berjalan lancar dan bahkan didatangi oleh banyak
orang. Semua orang seakan mendukung pencalonan juragane untuk menjadi
lurah, karena juragane adalah orang yang baik dan terkenal dermawan.
Saat berpidato orang-orang bertepuk tangan dengan meriah. Selain
dukungan dari para warga juragane memang sudah mendapat tempat
tersendiri diantara pejabat itu. Dengan demikian peluang juragane
untuk menang memang terbuka lebar.
Mengenai
surat gugatan tersebut, akhirnya diketahui bahwa yang menulis surat
gugatan itu adalah Pak Carik. Dia menulis surat itu dengan alasan dia
tidak ingin jika Arimbi di nikahi juragane, karena sebenarnya Pak
Carik ingin menjadikannya istri. Dengan surat gugatan tersebut secara
otomatis akan menjatuhkan nama juragane di kursi pencalonan. Namun
untung saja juragane mengenal pejabat itu dan nama juragane tidak di
coret. Walaupun juragane sudah mengetahui jika yang menulis itu
adalah Pak Carik, dia tidak dendam dan tidak berniat untuk
membalasnya. Karena buat apa membalasnya jika posisina tetap aman.
Karena hal itu juga Pak Carik menjadi tunduk pada juragane dan
Masyon.
Hari
pemilihan telah tiba, semua warga sangat berantusias dengan pesta
demokrasi itu. Jurgane dan Masyon mengelilingi setiap TPS untuk
mengetahui kondisi dan keadaan disetiap TPS. Setelah perhitungan yang
panjang akhirnya juragane menang sembilan puluh Sembilan persen
suara. Hal itu membuat senang juragane begitu pula dengan Masyon.
Dengan kemenangan itu, otomatis juragane terpilih menjadi lurah.
Hanya menunggu beberapa hari, juragane di lantik sebagai lurah oleh
buapati. Juragane masuk tv dan hal itu membuat bangga warga desa.
Wajah juragane sering muncul dilayar tv berkar Masyon yang mendatangi
seorang cameramen yang menuruhnya untuk mengambil gambar juragane.
Cameramen itu setuju dengan imbala uang yang diterimanya.
Setelah
pelantikan, juragane resmi menjadi lurah. Setelah menjadi lurah
juragane menjadi sangat sibuk, bahkan juragane harus pulang pergi
kota Ayodyaningrat untuk keperluan dengan pejabat. Nama juragane
tidak hanya terkenal di dusun saja, melainkan ketika juragane
mengahadiri sebuah acara di Ayodyaningrat mengenai sosialisasi lurah
baru, gubernur kota Ayidyaningrat menyalami juragane dengan akrabnya.
Hal itu dilihat oleh seorang lurah lainnnya dan kemudian mengatakan
jika juragane memakai jimat karena setiap orang yang baru dia kenal
akan segan dengannya. Namun hal itu dibantah oleh juragane dan malah
bertanya pada orang itu jimat apa yang harus dipakai. Mendangar
jawaban juragane lurah iru akhirnya tau jika jurgane tidak memakai
jimat.
Walaupun
juragane sudah menjadi lurah dan disegani banyak orang, namun Masyon
dan Pak Carik merasa jika hidup juragane tidaklah lengkap jika tidak
ada seorang istri yang mendampinginya. Masyon dan Pak Carik mempunyai
suatu ide untuk menikahkan juragane dengan Arimbi. Akhirnya jurgane
menikah dengan Arimbi dengan sebuah pesta yang sangat meriah dan
besar.
Harimau!
Harimau!
Karya
Mochtar Lubis
Judul
novel : Harimau! Harimau!
Penulis
: Mochtar Lubis
Tahun
: 1992
Penerbit
: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Jumlah
halaman : 214
Sinopsis :
Hutan
adalah tempat tinggal dari berbagai makhluk hidup, berbagai jenis
tanaman dan hewan hidup di sana. Hutan juga menjadi sumber
pencaharian dari berbagai orang untuk mendapatkan nafkah dengan
mengumpulkan hasil hutan. Seperti tujuh orang di sebuah kampung yang
menelusuri tiap sudut hutan untuk mendapatkan dammar kemudian di jual
untuk mendapatkan uang. Tujuh orang tersebut adalah Buyung, Sutan,
Sanip, Talib, Wak Katok, Pak Haji dan Pak Balam . Mereka berasal
dari latar belakang yang berbeda-beda yang kemudian bersama-sama
melakukan sebuah perjalanan di dalam hutan untuk mencari damar.
Buyung yang termuda diantara mereka, seorang pemuda berusia Sembilan
belas tahun. Sutan berumur dua puluh tahun dan telah berkeluarga.
Sanip berumur dua puluh lima tahun yang juga telah berkeluarga dan
mempunyai empat orang anak. Talib berumur dua puluh tujuh tahun yang
telah memiliki istri dan mempunyai tiga anak. Wak katok berumur lima
puluh tahun, dia terkenal di kampung sebagai pemburu yang mahir. Pak
Haji, orang yang paling tua diantara mereka. Berumur enam puluh tahun
dan dia di segani di kampungnya. Mereka telah berada di dalam hutan
selama seminggu, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk kembali di
kampung melepas kerinduan dengan keluarga yang mereka tinggalkan. Dan
yang terakhir adalah Pak Balam, ia adalah orang yang peling pendiam
diantara mereka.
Di
kampung mereka adalah sosok yang baik. Pak Haji dan Wak Katok di
segani oleh warga kampung, karena mereka dianggap sebagai orang yang
di tuakan dan dihormati. Wak Katok sendiri adalah orang pintar yang
berilmu, seorang dukun sehingga banyak orang yang datang meminta
bantuannya. Konon katanya Wak Katok dapat membunuh lawannya tanpa
menyentuhnya sedikitpun. Banyak orang sakit yang datang meminta
ramuan agar mereka sembuh dari penyakitnya. Ada juga yang
mendatanginnya hanya untuk memintanya menyantet orang agar orang yang
dia santet meninggal. Nama Wak Katok memang sangat terkenal.
Buyung
dan kawan-kawannya ingin belajar ilmu pada Wak Katok agar bisa dengan
mudah memikat hati gadis. Namun Wak Katok enggan megajari mereka.
Buyung telah lama jatuh cinta pada Zaitun, anak Wak Hamdani teman
ayahhnya. Namun Zaitun acuh tak acuh pada Buyung. Buyung dan Zaitun
telah berteman sejak kecil, namun lama berpisah dan tidak pernah
bertemu lagi. Sekalinya bertemu Zaitun sudah menjadi seorang gadis
yang cantik. Walaupun sikap Zaitun acuh tak acuh pada Buyung, namun
kadang ia tersenyum manis pada Buyung dan bersikap baik padanya.
Zaitun sebenarnya juga jatuh cinta pada Buyung.
Sanip,
Sutan dan Talib mengetahui jika Buyung jatuh cinta Zaitun. Mereka
sering menggoda Buyung karena dia tidak berani menungkapkan
perasaannya dan masih polos. Namun sebenarnya mereka baik pada
Buyung. Di sisi lain, di dalam hutan ada seorang yang di takuti orang
kampung karena siapa saja yang berani melawannya akan mati karena dia
mempunyai ilmu gaib. Wak Hitam namanya. Penampilannya memang
menakutkan dengan pakaian serba hitam dan rupanya seram. Dia
mempunyai banyak istri. Bahkan setiap tahun dia menikah dengan gadis
yang muda. Konon katanya dia menikahi gadis muda untuk menambah
ilmunya dan agar dia awet muda. Di dalam hutan di sebuah huma, Wak
Hitam tinggal bersama istri yang paling muda yang bernama Siti
Rubiyah. Siti Rubiyah sangat cantik dan menggoda. Sehingga banyak
orang yang heran mengapa dia mau dinikahi oleh Wak Katok, termasuk
Sanip. Sanip adalah orang yang mata keranjang. Hingga suatu hari di
saat Siti Rubiyah mandi di sungai ia mengintipnya dan bersembunyi di
balik semak-semak.
Setelah
mereka bertujuh melepas kerinduan di kampung, akhirnya mereka kembali
melanjutkan poerjalanan di dalam hutan. Belum sampai setengah hari
berjalan, Buyung teringat akan jebakan yang dia buat. Hingga akhirnya
dia memutuskan untuk kembali melihat jebakannya. Siapa tau dia
mendapatkan rusa. Benar saja ketika ia kembali, dia melihat di dalam
jebakannya ada rusa yang sangat cantik. Rusa itu akan dia berikan
pada Zaitun. Di saat itu datang Siti Rubiyah dan menyapa Buyung.
Mereka saling bercakap, hingga akhirnya Siti Rubiyah menceritakan
penderitaannya sebagai istri Wak Katok yang kejam itu. Dia
menceritakan bahwa Wak Katok kasar dalam hal apapun bahkan dia di
ancam untuk membunuhnya jika dia menceritakan hal itu kepada orang
orang lain. Tanpa sadar Buyung hanyut dan iba terhadap Siti Rubiyah.
Mereka terhasut hasutan setan dan melakukan hal yang seharusnya tidak
mereka lakukan. Buyung merasa berdosa dan selalu mengingat Zaitun,
dia merasa telah mengkhianati Zaitun.
Ketika
dia kembali ke hutan, ia berjanji untuk tidak menceritakan hal itu
kepada siapapun. Dia bersikap seperti biasa agar yang lain tidak
mencurigainya. Setelah makan dan beristirahat mereka melanjutkan
perjalanan. Mereka harus berhati-hati karena di dalam hutan tersebut
ada harimau yang siap untuk menerkam mereka jika harimau itu
mengetahui keberadaan mereka. Pagi harinya Buyung dan yang lain,
memburu seekor rusa, dan disini petaka datang. Rusa tersebut
disembelih, dikuliti lalu dibakar untuk bahan makanan di jalan. Namun
sebenarnya rusa itu adalah incaran seekor harimau yang sedang lapar.
Pada malam hari mereka beristirahat dan menyalakan api. Namun hal
yang tak terduga datang. Pak Balam di serang harimau hingga terluka
parah. Pak Balam langsung ditolong yang lain, dan menutup lukanya
dengan sobekan kain. Saat sedang merintih kesakitan, pak Balam
mengatakan bahwa mereka harus mengakui dosa-dosa mereka karena
harimau itu di kirim tuhan untuk menghukum mereka. Saat itu juga pak
Balam menceritakan dosa-dosa yang telah di lakukan oleh Wak Katok,
dia telah membunuh dan menyakitin banyak orang. Mendengar cerita pak
Balam, Wak Katok hanya terdiam dan yang lain saling pandang. Mereka
berfikir apakah benar yang dikatakan pak Balam.
Mereka
melanjutkan perjalanan dan membawa pak Balam dengan sebuah usungan
yan mereka buat. Di dalam hati mereka seakan bertanya-tanya apakah
benar yang di katakan pak Balam? Bahwa harimau itu di datangkan tuhan
untuk menghukum mereka. Saat malam tiba Wak Katok membacakan
mantera-mantera dan menerawang apakah harimau itu harimau biasa atau
harimau siluman. Wak Katok akhirnya menyimpulkan bahwa harimau itu
adalah harimau biasa. Semuanya merasa lebih lega mendengar perkataan
Wak Katok. Perjalanan di lanjutkan lagi, namun kpndisi pak Balam
semakin parah. Lukanya menjadi membusuk dan sekarang pak Balam
demam. Pak Balam tak henti-hentinya berkata “akuilah dosa
kalian..akuilah dosa kalian”. Hingga petaka datang lagi ketika Tali
yang sedang kencing diserang harimau, namun sayang nyawa Talib tidak
terselamatkan lagi. Talib telah meninggal. Setelah mereka menguburkan
Talib, mereka melanjutkan perjalanan kembali. Saat itu keadaan pak
Balam sudah sangat memprihatikan, keadaan diantara hidup dan mati.
Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat. Wak Katok dan
pak haji membuat keputusan untuk memburu harimau tersebut. Wak Katok,
Buyung dan Sanip pergi untuk berburu dan membunuh harimau itu agar
tidak ada korban lagi. Sedangkan pak haji dan Sutan menjaga pak Balam
dan tinggal di hutan. Sutan merasa risih mendengar rintihan pak Balam
yang mengatakan bahwa harus mengakui dosa-dosanya. Sutan sangat geram
dan ingin membunuh pak Balam namun niatan itu ia urungkan. Ia
memutuskan untuk pergi meninggal pak haji dan pak Balam untuk
menuyusul memburu harimau. Saat Wak Katok, Buyung, dan Sanip sedang
beristirahat di pinggir sungau. Buyung mendengar teriakan orang yang
memanggil-manggil namun tidak jelas suaranya. Hingga akhirnya mereka
semua mendengar teriakan orang yang berteriak dan kesakitan. Mereka
sadar orang tersebut diserang harimau, Buyung mengajak Wak Katok dan
Sanip untuk menolongnya. Namun Wak Katok menolak dengan alasan mereka
sama aja menyerahkan diri mereka kepada harimau itu. Sanip juga
sependapat dengan Wak Katok. Akhirnya Buyung menuruti perkataan
mereka. Mereka akhirnya bergegas untuk meninggalkan tempat itu.
Melanjutkan memburu harimau namun setelah berjalan beberapa jam
mereka tidak mendapatkan tanda-tanda kedatangan harimau atau bekas
harimau. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke tempat pak haji,
Sutan dan pak Balam. Ketika pak haji melihat kedatangan Buyung dan
yang lain, pak haji langsung menanyakan apakah mereka bertemu dengan
Sutan. Mereka terdiam dan seketika tersadar suara yang di dengar
mereka adalah suara Sutan yang mungkin telah mati di serang harimau.
Pak Balam langsung berkata dengan rintih “akui dosa kalian..akui
dosa kalian” hingga akhirnya pak Balam juga meninggal. Setelah
menguburkan pak Balam, mereka melanjutkan perjalanan.
Mereka sekarang
tinggal berempat, mereka memutuskan untuk menuju ke tempat Sutan saat
diserang harimau. Wak Katok memimpin perjalanan dengan senapan di
tangannya. Mereka sebenarnya tidak mengetahui bahwa sebenarnya Wak
Katok mempunyai ketakutan yang luar biasa di dalam dirinya, hanya
saja dia pandai menyembunyikan rasa takutkan itu di depan
teman-temannya. Maka dari itu dia sengaja untuk memilih jalan pintas
agar mereka cepat sampai di tempat kejadian. Bukan semakin cepat
mereka sampai, mereka malah tersesat di dalam hutan. Sepertinya itu
adalah akal-akalan Wak Katok agar mereka tidak kembali ke tempat itu
dan bertemu dengan harimau. Namun Wak Katok bersikap seakan tidak tau
dan malah menyuruh beristirahat saja. Hari sudah mulai gelap dan
mereka mnenyalakan api unggun. Saat mereka hanya diam karena letih
dan lelah, Buyung memecahkan suasana dengan menawarkan kepada Wak
Katok untuk membersihkan dan mengecek senapan jika saja senapan itu
rusak karena terkena air. Namun tawaran itu di tolak mentah-mentah
oleh Wak Katok dank arena rasa takutnya sudah mendalam ia malah
menuduh Buyung berniat untuk mengambil alih kuasa dan memegang
senapan itu. Wak Katok dengan berteriak dan dengan nada mengancam
mengarahkan senapan itu ke arah Buyung. Wak Katok malah mengancam
jika Buyung tidak mengakui dosa-dosanya dia akan menembak Buyung.
Namun Buyung hanya diam saja, tidak membuka mulut sedikitpun. Sampai
akhinya ketika Wak Katok akan menembak senapan itu, harimau datang
dan mengejutkan mereka. Saat Wak Katok akan menembak kearah harimau
itu, benar aja ternyata senapan itu rusak kenal air dan harus diganti
mesiunya. Jika dia menuruti perkataan Buyung tidak seperti ini
jadinya. Dengan cepat Buyung mangambil kayu dari api unggun dan
mengarahkan kearaha harimau itu, dan harimau itu pergi.
Setelah kejadian
itu, Wak Katok mngusir Buyung, Sanip dan pak haji agar menjauh
darinya dan pergi sendiri. Mereka akhirnya meninggalkan Wak Katok
sendirian di tengah hutan dengan senapan itu. Wak Katok menyesal
mengusir temannya, karena dia jadi sendir di dalam hutan itu. Buyung,
Sanip dan pak haji menyusun sebuah rencana agar mereka mendapatkan
seneapan itu dari tangan Wak Katok. Mereka kembali ke tempat Wak
Katok berada dan menyerang Wak Katok. Perkelahian Wak Katok dan
Buyung terjadi, sampai Wak Katok melepas tembakan dan malah mengenai
pak haji hingga pak haji jatuh diatas tanah. Sanip dengan sigap
mangambil kayu dan memukul Wak Katok hingga pingsan. Buyung dan Sanip
memeriksa keadaan pak haji. Pak haji tidak terselamatkan dengan luka
parah di bagian dadanya. Tinggal Buyung dan Sanip seorang, secara
tidak langsung kepemimpinan di pegang oleh Buyung, Buyung dan Sanip
mengikat tangan dan kaki Wak Katok agar dia tidak bisa pergi dan
menyerang, karena mereka berencana untuk membawa Wak Katok ke kmpung
agar di hukum dan di bawa ke kantor polisi. Saat Wak Katok tersadar,
mereka melanjutkan perjalanan memburu harimau. Hingga akhirnya mereka
menjadi kan Wak Katok sebagai umpan agar harimau itu datang dan bisa
di bunuh. Wak katok merasa ketakutan yang sangat dalam saat melihat
harimau mendekatinya hingga akhirnya ia pingsan. Buyung dan Sanip
yang menjaga dari kejauhan mengawasi. Buyung siap untuk menembak
harimau itu saat akan melompat menyerang Wak Katok. Tembakan Buyung
tepat sasaran dan berhasil menembak harimau itu dan harimau itu mati.
Setelah harimau itu mati, mereka menguliti harimau tersebut dan
membawanya ke kampung bersama dengan Wak Katok dengan keadaan terikat
agar para warga tau Wak Katok sebenarnya orang yang jahat dan akan
menyerahkannya ke polisi.
Ayah
Oleh
Sukmawati
Betapa
hebat dirimu
Melawan
panasnya terik matahari
Mencari
nafkah demi keluarga ini
Demi
sesuap nasi
Demi
menyambung kehidupan
Rasa
lelah tak pernah kau tunjukkan
Walau
sering aku melihat raut wajahmu yang lesu
Diwajah
tuamu itu
Namun….
Kau
tutupi dengan senyuman
Senyuman
kebahagiaan
Rahasia
Hati
Oleh
Sukmawati
Di
ujung jalan aku melihatmu
Kau
duduk di kursi itu
Menanti
kedatanganku
Aku
melihatmu tersenyum
Saat
aku berjalan menghampirimu
Hatiku
bergetar saat duduk di sampingmu
Tak
banyak kata yang terucap
Tatap
matalah yang berbicara
Mengungkap
rahasia
Tentang
perasaan yang sesungguhnya
Harapan
Ibu
Oleh
Sukmawati
Di
dalam kesendirian aku termenung
Bayangan
wajahmu terlintas di benakku
Wajah
yang selalu tersenyum untukku
Dalam
susah ataupun bahagiamu
Namun
aku tau
Banyak
yang tersimpan di balik senyuman itu
Keluh,
kesah dan kesedihan
Pandai
ia sembunyikan
Tatapan
matanya yang sayu
Menatap
penuh arti
Ada
harapan besar terlihat jelas di sana
Harapan
yang selalu ia impikan
Yaitu
diriku
Hujan
Dalam Kenangan
Oleh
Sukmawati
Rintik
hujan bernyanyi merdu
Tersimpan
kenangan di dalamnya
Suasana
syahdu menenangkan jiwa
Tentram
dan damai menyelimuti
Bagai
berpeluk mesra
Dengan
kenyamanan jiwa
Saat
Semua Terjawab
Oleh
Sukmawati
Waktu
menunjukkan pukul 3 sore. Aku mulai bersiap-siap untuk menepati
janji. Janji bertemu seseorang yang lama tak jumpa. Aku berdandan
secantik mungkin agar terlihat menarik dihadapan orang itu. Hatiku
berdebar-debar..entah perasaan apa yang sedang menghujam hati ini.
Aku berdiri di depan cermin. Menatap wajahku dalam-dalam.
"apa
dia juga mempunyai perasaan yang sama dengan apa yang aku rasakan?"
tanyaku sendiri dalam hati.
Entahlah..aku
tidak mau mempermasalahkannya. Aku biarkan perasaan ini tumbuh dengan
indah. Seindah hari ini. Ya..hari ini aku akan bertemu dengannya. Aku
telah lama menanti datangnya hari ini. Tiga tahun sudah dia
meninggalkan kota ini. Andai saja waktu itu dia mengatakan dengan
jelas dan tidak terpotong..aku pasti mendapat kepastian darinya.
tuuuuuutttt...suara
kereta di Stasiun menjemput penumpang yang siap pergi. Mengantarkan
mereka ke kota tujuannya. Aku dan Rano duduk di kursi tunggu. Tak ada
sepatah katapun yang keluar dari mulut kami berdua. Sampai akhirnya
Rano memulai pembicaraan.
"Mil...sebelum
aku pergi. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu". Wajah
Rino terlihat sangat serius menatapku saat itu.
"Bicara
apa? Apa kamu ingin mengucapkan salam perpisahan? hehe..iya aku tau
kok kamu pasti mau bicara itu kan?" jawabku memaksa.
Saat
itu aku berusaha tersenyum dan membuat lelucon di depannya. Padahal
hatiku menangis..tidak rela jika dia harus pergi jauh.
"Bukan
Mil..ada sesuatu hal yang lebih penting dan lebih serius dari itu"
Rano mengucapkan kata-kata itu dengan menatap mataku dalam-dalam.
Aku
berusaha setegar mungkin tidak meneteskan air mata di depannya. Aku
menatapnya jauh lebih dalam.
"Entah
sadar atau tidak..kita sudah banyak melewati waktu berdua.
Seneng-seneng bareng, susah bareng, lucu-lucuan bareng. Inget gak
waktu itu..waktu kita ada diatas menara. Dari atas menara itu. Kita
dapat melihat lautan yang terbentang luas di depan mata. Dan waktu
itu kamu gak berani naik di menara paling atas..gara-gara gak berani
naik tanggakan? takut kalo gak bisa turun. Hahaha dasar..coba aja
waktu itu kamu berani. Pasti pemandangannya jauh lebih bagus"
Rano menghentikan bicaranya dan menatapku sambil tersenyum.
Hehe...aku
tersenyum mendengar cerita Rano tentang diriku itu. Walaupun
sebenarnya mataku sudah berkaca-kaca. Aku berusaha agar air mataku
tidak menetes.
"Tapi
walaupun kamu gak berani naik menara paling atas itu..aku tetap
seneng bisa selalu bersamamu. Mila..aku ingin kamu mengetahui
sesuatu. Aku harap setalah aku mengatakan ini..tidak mengubah
kedekatan diantara kita. Aku ingin..Aku mau..sebenarnya
aku..............."
"Hay
Ranoooooo...." Tiba-tiba ada seseorang yang berteriak memanggil
Rano. Aku dan Rano menoleh kearah datangnya suara itu. Ya..ternyata
segerombolan teman Rano datang untuk mengucapkan salam perpisahan.
Kedatangan
mereka menghentikan pembicaraan diantara kami berdua. Rano tidak
melanjutkan pembicaraannya denganku. Dia asyik ngobrol dengan
teman-temannya itu. Sampai akhirnya Rano pergi tanpa melanjutkan apa
yang belum sempat dia ucapkan padaku.
"Sudahlah..itu
hanya kejadian 3 tahun silam. Mungkin Rano sudah melupakan kejadian
itu" pikirku dalam hati.
"Mau
kemana mbak?" tanya sopir taksi yang ku tumpangi.
"Ke
Stasiun pak" jawabku singkat.
Didalam
taksi, aku bingung apa yang harus aku lakukan saat pertama kali
ketemu Rano nanti. Apa yang harus aku katakan nanti. Pikiranku campur
aduk.
"Mbak
sudah sampai" suara sopir taksi itu mengagetkanku.
"Eh
iya pak" jawabku sambil memberi uang pada sopir taksi itu.
Aku
keluar dari taksi. Kaki ku seakan tidak kuat untuk melangkah. Tapi
aku paksakan kakiku melangkah setapak demi setapak dengan pasti. Aku
memasang mata mencari dari sudut ke sudut. Aku tidak melihat sosok
Rano dimanapun. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk duduk dikursi
yang 3 tahun lalu aku dan Rano duduk dikursi itu. Aku menghela nafas
panjang.
"huufffftttt...sepetinya
Rano udah pulang. Aku telat menjemputnya" kataku dalam hati.
Tiba-tiba
terdengar suara laki-laki memenuhi ruang tunggu yang saat itu sudah
sepi. Hanya beberapa orang yang terlihat masih menunggu dan duduk
dikursi yang lain. Aku sangat mengenal suara itu. Dengan segera aku
menoleh kebelakang.
"Tiga
yang lalu..tepat ditempat ini. Aku berjanji untuk mengatakan sesuatu.
Tapi saat itu..sebelum aku bisa mengatakannya, temen-temenku datang.
Dan aku gak jadi mengatakkan hal ini padamu"
Aku
bangkit dan berjalan menuju Rano berdiri. Aku berdiri tepat
dihadapannya. Mata kami saling tatap. Menatap penuh arti. Ada sesuatu
hal yang disembunyikan. Semua terlihat jelas dari tatapan mata kami.
Tanpa ku sadari aku meneteskan air mata saat Rano mulai berbicara.
Mulutku seakan terkunci dan tidak bisa berkata apapun.
"Hari
ini..aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang sudah lama aku
nantikan. Asal kamu tau Mil..disana aku tidak bisa hidup dengan
tenang. Aku selalu memikirkanmu. Walaupun setiap hari kita saling
bertukar kabar, tapi aku ingin bertemu denganmu dan mengatakan
sesuatu hal yang ingin aku katakan 3 tahun yang lalu secara langsung.
Mila..sejak pertama kali kita bertemu. Aku sudah merasakan hal yang
lain. Aku merasa nyaman saat bersamamu. Aku selalu menanti waktu
berdua bersamamu. Sampai akhirnya aku dengan terpaksa meninggalkan
kota ini karena orang tuaku. Tapi walaupun 3 tahun berlalu. Rasa itu
tidak hilang. Bahkan semakin dalam. Mila...di tempat ini. Di tengah
orang-orang yang melihat kita. Aku ingin kamu tahu satu hal. Aku
mencintaimu...aku mencintaimu karena Allah."
Air
mataku tumpah membasahi pipiku. Tak peduli dengan orang yang
melihatnya. Mulutku terkunci tidak bisa mengeluarkan kata-kata
apapun. Rano menggenggam tangaku erat.
"Mila..maukah
kau mendampingku dan menjadi ibu dari anak-anakku?" tanya Rano
menatapku dalam.
Aku
benar-benar tidak bisa berbicara apapun. Mulutku terkunci. Aku
mengumpulkan tenaga dan menata hati. Aku membuka mulutku dan
keluarlah kata itu dari mulutku.
"Iyaa..aku
mau Rano" jawabku tersedu.
Tidak
peduli dengan orang yang melihat kami berdua. Rano memelukku erat.
Aku membalas pelukkannya. Orang-orang yang melihat kami tersenyum dan
satu persatu meninggalkan kami yang larut dengan kebahagiaan ini.
Balada
25 September 2015
Oleh
sukmawati
Saat
matahari mulai terbenam
Ketika
suara adzan berkumandang
Semua
terasa hening
Semua
melangkah menuju masjid itu
Menjalankan
ibadah wajibnya
Meminta
kepada yang Maha Kuasa
Memohon
dengan hati yang bersih
Agar
mengampuni segala dosanya
Sesaat
terasa hening menyelimuti
Satu
dua orang mulai bangkit
Meninggalkan
masjid
Setelah
doanya selesai di panjatkan
Aku
menunggu di serambi
Menanti
seseorang muncul di balik pintu
Dan
Akhirnya
aku melihatnya
Dia
berjalan menghampiriku
Dengan
tatapan mata yang lain dari biasa
Dengan
tatapan mata yang tajam
Mengarah
kepadaku
Dengan
wajah yang penuh dengan kecemasan
Dengan
tingkah laku yang berbeda
Terlihat
ada sesuatu yang di tutupinya
Bibir
itu seakan terkunci rapat untuk bersuara
Hanya
tatapan mata
Yang
mampu menjelaskan
Kau
menggenggam tanganku kuat
Berjalan
menyusuri jalan
Menuju
suatu tempat
Di
tengah pusat kota
Di
bawah bulan dan bintang
Kau
menghentikan langkah
Di
tengah kerumunan orang
Kau
melepas genggaman tangan
Berbalik
badan menatapku
Mata
itu seakan berbicara
Mengungkapkan
isi kalbu
Aku
hanya diam
Tak
ada kata yang terucap
Menatapnya
penuh arti
Kedua
pasang mata bertatap
Seakan
mengetahui maksud di balik ini
Tak
peduli orang
Kau
tetap menatapku dalam-dalam
Mulut
yang terkunci itu
Mulai
terbuka dengan sendirinya
Kata
demi demi kata kau ucapkan
Dengan
hati yang bergetar
Dengan
suara yang bergetar
Kau
mengucapkan sebuah kalimat
Bismillahirahmanirahim
Aku
mencintaimu karena Allah
Di
bawah sinar bulan
Yang
menerangi
Tampak
jelas wajahmu
Tersenyum
lega manatapku
Sebuah
perasaan dari hati
Terungkap
sudah
Aku
memulai kata-kataku
Dengan
menatap mata itu
Sebuah
ketulusan terlukis disana
Sebuah
kalimat aku ucapkan
Dengan
kalimat yang sama
Hari
itu
Jumat,
25 September 2015
Selasa, 12 April 2016
Impian Seorang Enterprenur Muslim
Tentunya setiap manusia mempunyai impian dan tujuan hidup yang berbeda. berbagai upaya diperjuangkan untuk menggapainya. Impian tersebut berdasar pada apa yang kita inginkan, karakter kepribadian kita, dan tentunya setiap apa yang kita pandang itu dapat kita manfaatkan untuk mencapai impian. Disini saya ingin menceritakan impian kecil yang selama ini membentuk karakter dan kepribadian seorang manusia supaya dapat memberi manfaat kepada sesama lewat usaha yang saya lakukan dan yang orang lain mau lakukan. Bersama-sama membangun kemandirian ekonomi lewat dunia enterprenur. Terlepas dari itu, tentunya kita umat manusia diciptakan oleh Sang Khaliq didunia tentu ada tujuannya. Yaitu untuk taat beribadah kepadaNya dan berbuat baik kepada sesama umat manusia.
Selain kewirausahaan yang membentuk kepribadian saya, keimanan dan akhlaq sangat mempengaruhi karakter seseorang. Itu sebabnya saya memilih nama Great Husna Corporation sebagai branding usaha yang saya kerjakan. Dengan artian Great memiliki makna mendapatkan yang terbaik dan Husna berasal dari Asmaul Husna nama-nama Allah yang Baik. dengan filosofi setiap apa yang kita usahakan mempunyai nilai Ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT
.
Walaupun usaha yang saya lakukan merupakan usaha tirin temurun dari keluarga besar. Akan tetapi saya mempunyai komitmen untuk mengembangkan apa yang sudah keluarga usahakan selama ini. Semenjak SMA sudah mempunyai keinginan untuk berdagang. Dimulai dari bangku SMA, saya mempunyai seorang teman yang bernama Rahmat Trianto. Dia mempunyai keahlian dalam softwhare smartphone dan mengajarkan banyak hal tentang smartphone. Sayapun mulai usaha kecil - kecilan dengan menjual kartu kuota internet. Bahkan laci meja digunakan untuk meletakkan smartphone yang rusak dan ketika jadwal belajar kosong Rahmat mulai bekerja mengeflash smartphone yang rusak.
Setelah lulus SMA, saya diberi kepercayaan oleh om yang bernama Dadang Krisbiyanto untuk mengembangkan counter hp yang sudah dirilis sejalan dengan toko kelontong yang dijalaninya. Dalam merintis usaha counter saya juga mengajak teman yang bernama Arif Restu Prasetya yang mempunyai banyak pengalaman dalam jual beli handphone dan Wicak Aji Pangestu yang ingin mencari pengalaman didunia usaha. Akan tetapi Restu mempunyai keinginan mengabdi kepada NKRI, sudah ikut seleksi TNI sebanyak 2 kali akan tetapi belum berhasil. Dan sekarang memilih untuk berwirausaha jual beli kendaraan seperti apa yang dilakukan omnya. Sedangkan Wicak memilih dunia akademisi.
Inilah langkah awal dari usaha yang saya kerjakan. Seiring berjalannya waktu banyak pengetahuan dan pengalaman yang saya dapatkan. Mulai dari ikut komunitas maupun menganalisis usaha apa yang akan dikembangkan kedepan. Saya mempunyai impian untuk mencetak enterprenur muslim yang mandiri. Mengajak teman - teman maupun orang terdekat untuk mengembangkan minat dan bakat dibidang wirausaha. Dengan berdasarkan nilai - nilai Islam yang dapat bermanfaat kepada sesama manusia.
Langganan:
Postingan (Atom)




