Minggu, 17 Juli 2016

Awal Perjalanan Great Husna Corporation

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang

Apa itu Great Husna Corporation?
Mungkin pertanyaan itu yang terlintas pertama kali dipikiran Anda. 
Artikel ini akan menceritakan seluk beluk Great Husna Corporation.

 Gambar diatas merupakan bangunan dari toko kelontong, counter dan kos-kosan.

Arti dari Great yaitu dalam bahasa Inggris yang berarti " Yang Terbaik " dan Husna ialah bagian dari Asmaul Husna ( Nama-nama Allah Yang Baik ).
Ya kenapa mengambil nama dalam Islam, karena visi misi yang dilakukan dalam usaha Great Husna menggunakan prinsip dalam Agama Islam. Disamping itu untuk sarana dakwah.


Awal usaha yang dirintis adalah mengembangkan counter handphone, yang pada mulanya dikelola oleh om yang juga mengelola toko kelontong yang dirintis oleh simbah. Ketika itu saya masih duduk dibangku kelas 2 SMA. Bersyukur sekali waktu itu teman sebangku saya yang bernama Rahmat Trianto, mengajariku tentang dunia perhenphonan. Dimana ia sekarang menekuni servis smartphone dan menjadi salah satu kolega bagi Great Husna Cell. Waktu itu ia mengenalkan saya kepada distributor kartu-kartu kuota untuk internet. Dan saya pun melakukan penjualan kuota internet disekolahan lewat sosial media dalam promosinya. Alhamdulillah teman-teman banyak yang order. Karena selain 'kacek' harganya dan melayani Cost on Deliveri (COD).



Selanjutnya setelah lulus SMA. Sayapun melanjudkan keperguruan tinggi. Alhamdulillah diterima di UIN Sunan Kali Jaga. Disaat itu pula om ( Dadang Krisbiyanto ) memberikan kunci sekaligus ruko untuk counter disamping usaha kelontongnya. Disaat itu saya mengajak 2 rekan saya ( Arif Restu Prasetya dan Wicak Aji Pangestu ) untuk merintis counter. Disamping tema sebangku SMAku, karena Antok ( panggilan akrab Rahmat Trianto ) lebih fokus servis smartphone dirumahnya.

Gambar diatas merupakan kamar Rahmat Trianto sebagai tempat kerjanya.

Saya, Restu dan Wicak bersama-sama memodali berdirinya counter. Disamping modal utama dari orang tua.
Setahun berjalan sejak 10 Juni 2015, Alhamdulillah saya menemukan teman SD yang bernama Atta Malik dan kakaknya Saud Malik. Dimana mereka dulunya teman akrab sd. Dan memiliki keinginan untuk mandiri. Dengan membuka usaha counter. Sayapun bersemangat untuk membantu mereka mendirikan counter, baik dari modal, link maupun ilmu2nya ( walaupun ilmu saya pas-pasan ). Counter merka diberi nama Eshan Cell. Eshan dalam bahasa Arab yang berarti selalu dalam berkah Allah. Karena kitaspakat dalam pemberian nama bernafaskan prinsip Islam.



Tulisan diatas merupakan sedikit dari kisah perjalanan Great Husna Corporation. Karena pada prinsipnya, saya membantu orang-orang disekitar yang memiliki jiwa enterprenur untuk mengembangkan usahanya. Semoga tulisan diatas memberikan inspirasi bagi kita semua. Dan semoga apa yang kita usahakan didunia mendapatkan Rahmat, Berkah, Karunia dari Allah Swt. Karena kita didunia hanyalah sementara. Dalam Islam diharuskan berusaha dalam usuran dunia untuk mencari bekal kehidupan diakhirat.


Rabu, 18 Mei 2016

Juragan Subeyojeka
Karya Nur Iswantara



Judul : Juragan Subeyojeka
Penulis : Nur Iswantara
Penerit : Media Kreatifa
Tahun : 2009
Jumlah halaman : 248

Suro Bejo Yosodimulyo Jayeng Karso atau Subeyojeka atau biasa dipanggil dengan nama panggilan Juragane adalah seorang yang kaya, gagah perkasa yang berasal dari dusun Gunungsalam, Gunungmulyo, Sidoayu, Bantalaningrat. Subeyojeka akan mencalonkan diri sebagai lurah. Masyon pembantu sekaligus asisten dan penasihat Subeyojeka mendukungnya seratus persen dan akan membantu juragane untuk mencalonkan diri sebagai lurah. Masyon sangat akrab dengan juragane, semua urusan juragane Masyonlah yang mengurusnya. Wajar saja karena juragane adalah duda. Dia sudah lama menduda, sehingga banyak wanita atau bahkan wanita yang mempunyai suami rela meminta pisah dari suaminya untuk kemudian menikah dengan juragane. Termasuk Ratih, istri Masyon. Dia selalu genit dengan juragane.
Suatu hari, Subeyojeka mendapatkan sebuah Surat Sheet Komputer (SSK) dari orang penting di kota Praja Ayodyaningrat. Isi surat tersebut adalah meminta agar Subeyojeka datang ke kota Praja Ayodyaningrat. Hal tersebut membuat juragane takut dan bingung mengapa dia diundang untuk datang ke Ayodyaningrat. Juragane takut jika namanya akan dicoret dari pencalonan. Masyon sebagai penasihat juragane menasehati agar juragane berfikiran positif dan tidak menduga-duga. Namun, juragane tetap saja gelisah. Sehingga dia memutuskan untuk mendatangi Mbah Dongleng. Seorang peramal terkenal. Akhirnya jurgane dan Masyon mendatangi Mah Dogleng tersebut. Namun setelah sampai disana, Mbah Dogleng tidak memberikan sesuatu yang diinginkan juragane. Mbah Dogleng mengatakan jika urusan politik bukanlah urusan Spriritual. Akhirnya Subeyojeka dan Masyon pulang dan beberapa hari setelahnya mereka berangkat ke kota Ayodyaningrat.
Sesampainya di kota Ayodyaningrat, juragane dan Masyon disambut hangat dengan seseorang yang menjemputnya di stasiun dan mengantarkan mereka di hotel. Juragane dan Masyon sangat senang dengan sikap orang tersebut. Namun tetap saja juragane tidak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan pertemuannya dengan pejabat besok. Keesokan paginya, juragane dan Masyon datang di kantor pemerintahan untuk bertemu dengan pejabat. Juragane terlihat sangat gelisah dan tegang saat akan bertemu dengan pejabat tersebut. Setelah menunggu agak lama, akhinrya juragane dan Masyon bertemu dengan pejabat tersebut. Juragane terkejut ketika bertemu dengan pejabat tersebut, karena ternyata pejabat tersebut adalah teman lama juragane yang sudah lama tidak bertemu lagi. Setelah cukup lama berbasa-basi akhirnya juragane menanyakan kepada pejabat itu mengapa dia dipanggil ke Ayodyaningrat. Pejabat tersebut malah tertawa, dia mengatakan bahwa seharusnya juragane tidak perlu takut dan khawatir karena dia diundang disini bukan untuk maksud apa-apa. Pejabat itu memberikan sebuah amplop yang isinya surat gugatan. Dan isi surat tersebut bersifat menjatuhkan juragane untuk maju di pencalonan. Surat gugatan tersebut berates namakan Arimbi, calon istri juragane. Sontak hal itu membuat jurgane dan Masyon kaget. Namun juragane tidak percaya jika yang menulis surat itu adalah Arimbi. Juragane dan Masyon memutuskan untuk mengusut kasus itu setelah pulang nanti. Pejabat tersebut juga memastikan jika nama juragane tidak akan dicoret dari nama pencalonan.
Berita tentang surat gugatan tersebut menyebar cepat di dusun. Hampir semua orang membicarakannya. Sesampainya di dusun Masyon bertindak cepat untuk mencari siapa yang menulis surat tersebut. Hingga suatu ketika, saat ronda malam Masyon tidak sengaja lewat di depan rumah Arimbi, dia melihat jika pintu rumah Arimbi terbuka dan melihat ada seseorang yang keluar dari dalam rumah Arimbi. Dan tidak salah lagi, yang keluar dari rumah Arimbi itu adalah Pak Carik. Masyon yang melihat kejadia itu tidak langsung melaporkannya kepada juargane. Masyon menunggu waktu yang tepat untuk menceritakan kejadian yang dilihatnya itu pada juragane.
Waktu kampanye belum dimulai, namun calon lurah yang lain sudah banyak mengadakan kampanye namun dengan istilah yang beda. Ada yang menyebutnya pengajian, kumpulan, atau yang lainnya. Subeyojeka tidak mengadakan kampanye karena dia masih ingat dengan kata-kata pejabat bahwa jangan terburu-buru untuk mengadakan kampanye takutnya akan kontraproduktif, karena itu juragane tidak mengadakan kampanye meski Masyon menyuruhnya untuk mengadakan kampanye. Namun ketika Masyon bertanya dengan salah satu mahasiswa yang sedang berada di dusun dan menanyakan arti dari kata kontraproduktif tersebut, Masyon langsung memberitahukannya kepada juragane yang ternyata arti dari kata kontraproduktf itu merugikan. Masyon berfikir jika kampanye yang merugikan adalah kampanye yang merusak, namun jika dikelola dengan baik tidak akan merugikan. Hal tersebtu disampaikan kepada juragane dan juragane mnegerti dan setuju dengan usul Masyon untuk mengadakan kampanye. Kampanye berjalan lancar dan bahkan didatangi oleh banyak orang. Semua orang seakan mendukung pencalonan juragane untuk menjadi lurah, karena juragane adalah orang yang baik dan terkenal dermawan. Saat berpidato orang-orang bertepuk tangan dengan meriah. Selain dukungan dari para warga juragane memang sudah mendapat tempat tersendiri diantara pejabat itu. Dengan demikian peluang juragane untuk menang memang terbuka lebar.
Mengenai surat gugatan tersebut, akhirnya diketahui bahwa yang menulis surat gugatan itu adalah Pak Carik. Dia menulis surat itu dengan alasan dia tidak ingin jika Arimbi di nikahi juragane, karena sebenarnya Pak Carik ingin menjadikannya istri. Dengan surat gugatan tersebut secara otomatis akan menjatuhkan nama juragane di kursi pencalonan. Namun untung saja juragane mengenal pejabat itu dan nama juragane tidak di coret. Walaupun juragane sudah mengetahui jika yang menulis itu adalah Pak Carik, dia tidak dendam dan tidak berniat untuk membalasnya. Karena buat apa membalasnya jika posisina tetap aman. Karena hal itu juga Pak Carik menjadi tunduk pada juragane dan Masyon.
Hari pemilihan telah tiba, semua warga sangat berantusias dengan pesta demokrasi itu. Jurgane dan Masyon mengelilingi setiap TPS untuk mengetahui kondisi dan keadaan disetiap TPS. Setelah perhitungan yang panjang akhirnya juragane menang sembilan puluh Sembilan persen suara. Hal itu membuat senang juragane begitu pula dengan Masyon. Dengan kemenangan itu, otomatis juragane terpilih menjadi lurah. Hanya menunggu beberapa hari, juragane di lantik sebagai lurah oleh buapati. Juragane masuk tv dan hal itu membuat bangga warga desa. Wajah juragane sering muncul dilayar tv berkar Masyon yang mendatangi seorang cameramen yang menuruhnya untuk mengambil gambar juragane. Cameramen itu setuju dengan imbala uang yang diterimanya.
Setelah pelantikan, juragane resmi menjadi lurah. Setelah menjadi lurah juragane menjadi sangat sibuk, bahkan juragane harus pulang pergi kota Ayodyaningrat untuk keperluan dengan pejabat. Nama juragane tidak hanya terkenal di dusun saja, melainkan ketika juragane mengahadiri sebuah acara di Ayodyaningrat mengenai sosialisasi lurah baru, gubernur kota Ayidyaningrat menyalami juragane dengan akrabnya. Hal itu dilihat oleh seorang lurah lainnnya dan kemudian mengatakan jika juragane memakai jimat karena setiap orang yang baru dia kenal akan segan dengannya. Namun hal itu dibantah oleh juragane dan malah bertanya pada orang itu jimat apa yang harus dipakai. Mendangar jawaban juragane lurah iru akhirnya tau jika jurgane tidak memakai jimat.
Walaupun juragane sudah menjadi lurah dan disegani banyak orang, namun Masyon dan Pak Carik merasa jika hidup juragane tidaklah lengkap jika tidak ada seorang istri yang mendampinginya. Masyon dan Pak Carik mempunyai suatu ide untuk menikahkan juragane dengan Arimbi. Akhirnya jurgane menikah dengan Arimbi dengan sebuah pesta yang sangat meriah dan besar.


Harimau! Harimau!
Karya Mochtar Lubis





Judul novel : Harimau! Harimau!
Penulis : Mochtar Lubis
Tahun : 1992
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Jumlah halaman : 214
Sinopsis :
Hutan adalah tempat tinggal dari berbagai makhluk hidup, berbagai jenis tanaman dan hewan hidup di sana. Hutan juga menjadi sumber pencaharian dari berbagai orang untuk mendapatkan nafkah dengan mengumpulkan hasil hutan. Seperti tujuh orang di sebuah kampung yang menelusuri tiap sudut hutan untuk mendapatkan dammar kemudian di jual untuk mendapatkan uang. Tujuh orang tersebut adalah Buyung, Sutan, Sanip, Talib, Wak Katok, Pak Haji dan Pak Balam . Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda-beda yang kemudian bersama-sama melakukan sebuah perjalanan di dalam hutan untuk mencari damar. Buyung yang termuda diantara mereka, seorang pemuda berusia Sembilan belas tahun. Sutan berumur dua puluh tahun dan telah berkeluarga. Sanip berumur dua puluh lima tahun yang juga telah berkeluarga dan mempunyai empat orang anak. Talib berumur dua puluh tujuh tahun yang telah memiliki istri dan mempunyai tiga anak. Wak katok berumur lima puluh tahun, dia terkenal di kampung sebagai pemburu yang mahir. Pak Haji, orang yang paling tua diantara mereka. Berumur enam puluh tahun dan dia di segani di kampungnya. Mereka telah berada di dalam hutan selama seminggu, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk kembali di kampung melepas kerinduan dengan keluarga yang mereka tinggalkan. Dan yang terakhir adalah Pak Balam, ia adalah orang yang peling pendiam diantara mereka.
Di kampung mereka adalah sosok yang baik. Pak Haji dan Wak Katok di segani oleh warga kampung, karena mereka dianggap sebagai orang yang di tuakan dan dihormati. Wak Katok sendiri adalah orang pintar yang berilmu, seorang dukun sehingga banyak orang yang datang meminta bantuannya. Konon katanya Wak Katok dapat membunuh lawannya tanpa menyentuhnya sedikitpun. Banyak orang sakit yang datang meminta ramuan agar mereka sembuh dari penyakitnya. Ada juga yang mendatanginnya hanya untuk memintanya menyantet orang agar orang yang dia santet meninggal. Nama Wak Katok memang sangat terkenal.
Buyung dan kawan-kawannya ingin belajar ilmu pada Wak Katok agar bisa dengan mudah memikat hati gadis. Namun Wak Katok enggan megajari mereka. Buyung telah lama jatuh cinta pada Zaitun, anak Wak Hamdani teman ayahhnya. Namun Zaitun acuh tak acuh pada Buyung. Buyung dan Zaitun telah berteman sejak kecil, namun lama berpisah dan tidak pernah bertemu lagi. Sekalinya bertemu Zaitun sudah menjadi seorang gadis yang cantik. Walaupun sikap Zaitun acuh tak acuh pada Buyung, namun kadang ia tersenyum manis pada Buyung dan bersikap baik padanya. Zaitun sebenarnya juga jatuh cinta pada Buyung.
Sanip, Sutan dan Talib mengetahui jika Buyung jatuh cinta Zaitun. Mereka sering menggoda Buyung karena dia tidak berani menungkapkan perasaannya dan masih polos. Namun sebenarnya mereka baik pada Buyung. Di sisi lain, di dalam hutan ada seorang yang di takuti orang kampung karena siapa saja yang berani melawannya akan mati karena dia mempunyai ilmu gaib. Wak Hitam namanya. Penampilannya memang menakutkan dengan pakaian serba hitam dan rupanya seram. Dia mempunyai banyak istri. Bahkan setiap tahun dia menikah dengan gadis yang muda. Konon katanya dia menikahi gadis muda untuk menambah ilmunya dan agar dia awet muda. Di dalam hutan di sebuah huma, Wak Hitam tinggal bersama istri yang paling muda yang bernama Siti Rubiyah. Siti Rubiyah sangat cantik dan menggoda. Sehingga banyak orang yang heran mengapa dia mau dinikahi oleh Wak Katok, termasuk Sanip. Sanip adalah orang yang mata keranjang. Hingga suatu hari di saat Siti Rubiyah mandi di sungai ia mengintipnya dan bersembunyi di balik semak-semak.
Setelah mereka bertujuh melepas kerinduan di kampung, akhirnya mereka kembali melanjutkan poerjalanan di dalam hutan. Belum sampai setengah hari berjalan, Buyung teringat akan jebakan yang dia buat. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk kembali melihat jebakannya. Siapa tau dia mendapatkan rusa. Benar saja ketika ia kembali, dia melihat di dalam jebakannya ada rusa yang sangat cantik. Rusa itu akan dia berikan pada Zaitun. Di saat itu datang Siti Rubiyah dan menyapa Buyung. Mereka saling bercakap, hingga akhirnya Siti Rubiyah menceritakan penderitaannya sebagai istri Wak Katok yang kejam itu. Dia menceritakan bahwa Wak Katok kasar dalam hal apapun bahkan dia di ancam untuk membunuhnya jika dia menceritakan hal itu kepada orang orang lain. Tanpa sadar Buyung hanyut dan iba terhadap Siti Rubiyah. Mereka terhasut hasutan setan dan melakukan hal yang seharusnya tidak mereka lakukan. Buyung merasa berdosa dan selalu mengingat Zaitun, dia merasa telah mengkhianati Zaitun.
Ketika dia kembali ke hutan, ia berjanji untuk tidak menceritakan hal itu kepada siapapun. Dia bersikap seperti biasa agar yang lain tidak mencurigainya. Setelah makan dan beristirahat mereka melanjutkan perjalanan. Mereka harus berhati-hati karena di dalam hutan tersebut ada harimau yang siap untuk menerkam mereka jika harimau itu mengetahui keberadaan mereka. Pagi harinya Buyung dan yang lain, memburu seekor rusa, dan disini petaka datang. Rusa tersebut disembelih, dikuliti lalu dibakar untuk bahan makanan di jalan. Namun sebenarnya rusa itu adalah incaran seekor harimau yang sedang lapar. Pada malam hari mereka beristirahat dan menyalakan api. Namun hal yang tak terduga datang. Pak Balam di serang harimau hingga terluka parah. Pak Balam langsung ditolong yang lain, dan menutup lukanya dengan sobekan kain. Saat sedang merintih kesakitan, pak Balam mengatakan bahwa mereka harus mengakui dosa-dosa mereka karena harimau itu di kirim tuhan untuk menghukum mereka. Saat itu juga pak Balam menceritakan dosa-dosa yang telah di lakukan oleh Wak Katok, dia telah membunuh dan menyakitin banyak orang. Mendengar cerita pak Balam, Wak Katok hanya terdiam dan yang lain saling pandang. Mereka berfikir apakah benar yang dikatakan pak Balam.
Mereka melanjutkan perjalanan dan membawa pak Balam dengan sebuah usungan yan mereka buat. Di dalam hati mereka seakan bertanya-tanya apakah benar yang di katakan pak Balam? Bahwa harimau itu di datangkan tuhan untuk menghukum mereka. Saat malam tiba Wak Katok membacakan mantera-mantera dan menerawang apakah harimau itu harimau biasa atau harimau siluman. Wak Katok akhirnya menyimpulkan bahwa harimau itu adalah harimau biasa. Semuanya merasa lebih lega mendengar perkataan Wak Katok. Perjalanan di lanjutkan lagi, namun kpndisi pak Balam semakin parah. Lukanya menjadi membusuk dan sekarang pak Balam demam. Pak Balam tak henti-hentinya berkata “akuilah dosa kalian..akuilah dosa kalian”. Hingga petaka datang lagi ketika Tali yang sedang kencing diserang harimau, namun sayang nyawa Talib tidak terselamatkan lagi. Talib telah meninggal. Setelah mereka menguburkan Talib, mereka melanjutkan perjalanan kembali. Saat itu keadaan pak Balam sudah sangat memprihatikan, keadaan diantara hidup dan mati. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat. Wak Katok dan pak haji membuat keputusan untuk memburu harimau tersebut. Wak Katok, Buyung dan Sanip pergi untuk berburu dan membunuh harimau itu agar tidak ada korban lagi. Sedangkan pak haji dan Sutan menjaga pak Balam dan tinggal di hutan. Sutan merasa risih mendengar rintihan pak Balam yang mengatakan bahwa harus mengakui dosa-dosanya. Sutan sangat geram dan ingin membunuh pak Balam namun niatan itu ia urungkan. Ia memutuskan untuk pergi meninggal pak haji dan pak Balam untuk menuyusul memburu harimau. Saat Wak Katok, Buyung, dan Sanip sedang beristirahat di pinggir sungau. Buyung mendengar teriakan orang yang memanggil-manggil namun tidak jelas suaranya. Hingga akhirnya mereka semua mendengar teriakan orang yang berteriak dan kesakitan. Mereka sadar orang tersebut diserang harimau, Buyung mengajak Wak Katok dan Sanip untuk menolongnya. Namun Wak Katok menolak dengan alasan mereka sama aja menyerahkan diri mereka kepada harimau itu. Sanip juga sependapat dengan Wak Katok. Akhirnya Buyung menuruti perkataan mereka. Mereka akhirnya bergegas untuk meninggalkan tempat itu. Melanjutkan memburu harimau namun setelah berjalan beberapa jam mereka tidak mendapatkan tanda-tanda kedatangan harimau atau bekas harimau. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke tempat pak haji, Sutan dan pak Balam. Ketika pak haji melihat kedatangan Buyung dan yang lain, pak haji langsung menanyakan apakah mereka bertemu dengan Sutan. Mereka terdiam dan seketika tersadar suara yang di dengar mereka adalah suara Sutan yang mungkin telah mati di serang harimau. Pak Balam langsung berkata dengan rintih “akui dosa kalian..akui dosa kalian” hingga akhirnya pak Balam juga meninggal. Setelah menguburkan pak Balam, mereka melanjutkan perjalanan.
Mereka sekarang tinggal berempat, mereka memutuskan untuk menuju ke tempat Sutan saat diserang harimau. Wak Katok memimpin perjalanan dengan senapan di tangannya. Mereka sebenarnya tidak mengetahui bahwa sebenarnya Wak Katok mempunyai ketakutan yang luar biasa di dalam dirinya, hanya saja dia pandai menyembunyikan rasa takutkan itu di depan teman-temannya. Maka dari itu dia sengaja untuk memilih jalan pintas agar mereka cepat sampai di tempat kejadian. Bukan semakin cepat mereka sampai, mereka malah tersesat di dalam hutan. Sepertinya itu adalah akal-akalan Wak Katok agar mereka tidak kembali ke tempat itu dan bertemu dengan harimau. Namun Wak Katok bersikap seakan tidak tau dan malah menyuruh beristirahat saja. Hari sudah mulai gelap dan mereka mnenyalakan api unggun. Saat mereka hanya diam karena letih dan lelah, Buyung memecahkan suasana dengan menawarkan kepada Wak Katok untuk membersihkan dan mengecek senapan jika saja senapan itu rusak karena terkena air. Namun tawaran itu di tolak mentah-mentah oleh Wak Katok dank arena rasa takutnya sudah mendalam ia malah menuduh Buyung berniat untuk mengambil alih kuasa dan memegang senapan itu. Wak Katok dengan berteriak dan dengan nada mengancam mengarahkan senapan itu ke arah Buyung. Wak Katok malah mengancam jika Buyung tidak mengakui dosa-dosanya dia akan menembak Buyung. Namun Buyung hanya diam saja, tidak membuka mulut sedikitpun. Sampai akhinya ketika Wak Katok akan menembak senapan itu, harimau datang dan mengejutkan mereka. Saat Wak Katok akan menembak kearah harimau itu, benar aja ternyata senapan itu rusak kenal air dan harus diganti mesiunya. Jika dia menuruti perkataan Buyung tidak seperti ini jadinya. Dengan cepat Buyung mangambil kayu dari api unggun dan mengarahkan kearaha harimau itu, dan harimau itu pergi.
Setelah kejadian itu, Wak Katok mngusir Buyung, Sanip dan pak haji agar menjauh darinya dan pergi sendiri. Mereka akhirnya meninggalkan Wak Katok sendirian di tengah hutan dengan senapan itu. Wak Katok menyesal mengusir temannya, karena dia jadi sendir di dalam hutan itu. Buyung, Sanip dan pak haji menyusun sebuah rencana agar mereka mendapatkan seneapan itu dari tangan Wak Katok. Mereka kembali ke tempat Wak Katok berada dan menyerang Wak Katok. Perkelahian Wak Katok dan Buyung terjadi, sampai Wak Katok melepas tembakan dan malah mengenai pak haji hingga pak haji jatuh diatas tanah. Sanip dengan sigap mangambil kayu dan memukul Wak Katok hingga pingsan. Buyung dan Sanip memeriksa keadaan pak haji. Pak haji tidak terselamatkan dengan luka parah di bagian dadanya. Tinggal Buyung dan Sanip seorang, secara tidak langsung kepemimpinan di pegang oleh Buyung, Buyung dan Sanip mengikat tangan dan kaki Wak Katok agar dia tidak bisa pergi dan menyerang, karena mereka berencana untuk membawa Wak Katok ke kmpung agar di hukum dan di bawa ke kantor polisi. Saat Wak Katok tersadar, mereka melanjutkan perjalanan memburu harimau. Hingga akhirnya mereka menjadi kan Wak Katok sebagai umpan agar harimau itu datang dan bisa di bunuh. Wak katok merasa ketakutan yang sangat dalam saat melihat harimau mendekatinya hingga akhirnya ia pingsan. Buyung dan Sanip yang menjaga dari kejauhan mengawasi. Buyung siap untuk menembak harimau itu saat akan melompat menyerang Wak Katok. Tembakan Buyung tepat sasaran dan berhasil menembak harimau itu dan harimau itu mati. Setelah harimau itu mati, mereka menguliti harimau tersebut dan membawanya ke kampung bersama dengan Wak Katok dengan keadaan terikat agar para warga tau Wak Katok sebenarnya orang yang jahat dan akan menyerahkannya ke polisi.


Ayah
Oleh Sukmawati

Betapa hebat dirimu
Melawan panasnya terik matahari
Mencari nafkah demi keluarga ini
Demi sesuap nasi
Demi menyambung kehidupan
Rasa lelah tak pernah kau tunjukkan
Walau sering aku melihat raut wajahmu yang lesu
Diwajah tuamu itu
Namun….
Kau tutupi dengan senyuman
Senyuman kebahagiaan







Rahasia Hati
Oleh Sukmawati

Di ujung jalan aku melihatmu
Kau duduk di kursi itu
Menanti kedatanganku
Aku melihatmu tersenyum
Saat aku berjalan menghampirimu
Hatiku bergetar saat duduk di sampingmu
Tak banyak kata yang terucap
Tatap matalah yang berbicara
Mengungkap rahasia
Tentang perasaan yang sesungguhnya











Harapan Ibu
Oleh Sukmawati


Di dalam kesendirian aku termenung
Bayangan wajahmu terlintas di benakku
Wajah yang selalu tersenyum untukku
Dalam susah ataupun bahagiamu
Namun aku tau
Banyak yang tersimpan di balik senyuman itu
Keluh, kesah dan kesedihan
Pandai ia sembunyikan
Tatapan matanya yang sayu
Menatap penuh arti
Ada harapan besar terlihat jelas di sana
Harapan yang selalu ia impikan
Yaitu diriku










Hujan Dalam Kenangan
Oleh Sukmawati


Rintik hujan bernyanyi merdu
Tersimpan kenangan di dalamnya
Suasana syahdu menenangkan jiwa
Tentram dan damai menyelimuti
Bagai berpeluk mesra
Dengan kenyamanan jiwa
















Saat Semua Terjawab
Oleh Sukmawati

Waktu menunjukkan pukul 3 sore. Aku mulai bersiap-siap untuk menepati janji. Janji bertemu seseorang yang lama tak jumpa. Aku berdandan secantik mungkin agar terlihat menarik dihadapan orang itu. Hatiku berdebar-debar..entah perasaan apa yang sedang menghujam hati ini. Aku berdiri di depan cermin. Menatap wajahku dalam-dalam.
"apa dia juga mempunyai perasaan yang sama dengan apa yang aku rasakan?" tanyaku sendiri dalam hati.
Entahlah..aku tidak mau mempermasalahkannya. Aku biarkan perasaan ini tumbuh dengan indah. Seindah hari ini. Ya..hari ini aku akan bertemu dengannya. Aku telah lama menanti datangnya hari ini. Tiga tahun sudah dia meninggalkan kota ini. Andai saja waktu itu dia mengatakan dengan jelas dan tidak terpotong..aku pasti mendapat kepastian darinya.
tuuuuuutttt...suara kereta di Stasiun menjemput penumpang yang siap pergi. Mengantarkan mereka ke kota tujuannya. Aku dan Rano duduk di kursi tunggu. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami berdua. Sampai akhirnya Rano memulai pembicaraan.
"Mil...sebelum aku pergi. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu". Wajah Rino terlihat sangat serius menatapku saat itu.
"Bicara apa? Apa kamu ingin mengucapkan salam perpisahan? hehe..iya aku tau kok kamu pasti mau bicara itu kan?" jawabku memaksa.
Saat itu aku berusaha tersenyum dan membuat lelucon di depannya. Padahal hatiku menangis..tidak rela jika dia harus pergi jauh.
"Bukan Mil..ada sesuatu hal yang lebih penting dan lebih serius dari itu" Rano mengucapkan kata-kata itu dengan menatap mataku dalam-dalam.
Aku berusaha setegar mungkin tidak meneteskan air mata di depannya. Aku menatapnya jauh lebih dalam.
"Entah sadar atau tidak..kita sudah banyak melewati waktu berdua. Seneng-seneng bareng, susah bareng, lucu-lucuan bareng. Inget gak waktu itu..waktu kita ada diatas menara. Dari atas menara itu. Kita dapat melihat lautan yang terbentang luas di depan mata. Dan waktu itu kamu gak berani naik di menara paling atas..gara-gara gak berani naik tanggakan? takut kalo gak bisa turun. Hahaha dasar..coba aja waktu itu kamu berani. Pasti pemandangannya jauh lebih bagus" Rano menghentikan bicaranya dan menatapku sambil tersenyum.
Hehe...aku tersenyum mendengar cerita Rano tentang diriku itu. Walaupun sebenarnya mataku sudah berkaca-kaca. Aku berusaha agar air mataku tidak menetes.
"Tapi walaupun kamu gak berani naik menara paling atas itu..aku tetap seneng bisa selalu bersamamu. Mila..aku ingin kamu mengetahui sesuatu. Aku harap setalah aku mengatakan ini..tidak mengubah kedekatan diantara kita. Aku ingin..Aku mau..sebenarnya aku..............."
"Hay Ranoooooo...." Tiba-tiba ada seseorang yang berteriak memanggil Rano. Aku dan Rano menoleh kearah datangnya suara itu. Ya..ternyata segerombolan teman Rano datang untuk mengucapkan salam perpisahan.
Kedatangan mereka menghentikan pembicaraan diantara kami berdua. Rano tidak melanjutkan pembicaraannya denganku. Dia asyik ngobrol dengan teman-temannya itu. Sampai akhirnya Rano pergi tanpa melanjutkan apa yang belum sempat dia ucapkan padaku.
"Sudahlah..itu hanya kejadian 3 tahun silam. Mungkin Rano sudah melupakan kejadian itu" pikirku dalam hati.
"Mau kemana mbak?" tanya sopir taksi yang ku tumpangi.
"Ke Stasiun pak" jawabku singkat.
Didalam taksi, aku bingung apa yang harus aku lakukan saat pertama kali ketemu Rano nanti. Apa yang harus aku katakan nanti. Pikiranku campur aduk.
"Mbak sudah sampai" suara sopir taksi itu mengagetkanku.
"Eh iya pak" jawabku sambil memberi uang pada sopir taksi itu.
Aku keluar dari taksi. Kaki ku seakan tidak kuat untuk melangkah. Tapi aku paksakan kakiku melangkah setapak demi setapak dengan pasti. Aku memasang mata mencari dari sudut ke sudut. Aku tidak melihat sosok Rano dimanapun. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk duduk dikursi yang 3 tahun lalu aku dan Rano duduk dikursi itu. Aku menghela nafas panjang.
"huufffftttt...sepetinya Rano udah pulang. Aku telat menjemputnya" kataku dalam hati.
Tiba-tiba terdengar suara laki-laki memenuhi ruang tunggu yang saat itu sudah sepi. Hanya beberapa orang yang terlihat masih menunggu dan duduk dikursi yang lain. Aku sangat mengenal suara itu. Dengan segera aku menoleh kebelakang.
"Tiga yang lalu..tepat ditempat ini. Aku berjanji untuk mengatakan sesuatu. Tapi saat itu..sebelum aku bisa mengatakannya, temen-temenku datang. Dan aku gak jadi mengatakkan hal ini padamu"
Aku bangkit dan berjalan menuju Rano berdiri. Aku berdiri tepat dihadapannya. Mata kami saling tatap. Menatap penuh arti. Ada sesuatu hal yang disembunyikan. Semua terlihat jelas dari tatapan mata kami. Tanpa ku sadari aku meneteskan air mata saat Rano mulai berbicara. Mulutku seakan terkunci dan tidak bisa berkata apapun.
"Hari ini..aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang sudah lama aku nantikan. Asal kamu tau Mil..disana aku tidak bisa hidup dengan tenang. Aku selalu memikirkanmu. Walaupun setiap hari kita saling bertukar kabar, tapi aku ingin bertemu denganmu dan mengatakan sesuatu hal yang ingin aku katakan 3 tahun yang lalu secara langsung. Mila..sejak pertama kali kita bertemu. Aku sudah merasakan hal yang lain. Aku merasa nyaman saat bersamamu. Aku selalu menanti waktu berdua bersamamu. Sampai akhirnya aku dengan terpaksa meninggalkan kota ini karena orang tuaku. Tapi walaupun 3 tahun berlalu. Rasa itu tidak hilang. Bahkan semakin dalam. Mila...di tempat ini. Di tengah orang-orang yang melihat kita. Aku ingin kamu tahu satu hal. Aku mencintaimu...aku mencintaimu karena Allah."
Air mataku tumpah membasahi pipiku. Tak peduli dengan orang yang melihatnya. Mulutku terkunci tidak bisa mengeluarkan kata-kata apapun. Rano menggenggam tangaku erat.
"Mila..maukah kau mendampingku dan menjadi ibu dari anak-anakku?" tanya Rano menatapku dalam.
Aku benar-benar tidak bisa berbicara apapun. Mulutku terkunci. Aku mengumpulkan tenaga dan menata hati. Aku membuka mulutku dan keluarlah kata itu dari mulutku.
"Iyaa..aku mau Rano" jawabku tersedu.
Tidak peduli dengan orang yang melihat kami berdua. Rano memelukku erat. Aku membalas pelukkannya. Orang-orang yang melihat kami tersenyum dan satu persatu meninggalkan kami yang larut dengan kebahagiaan ini.






Balada 25 September 2015
Oleh sukmawati

Saat matahari mulai terbenam
Ketika suara adzan berkumandang
Semua terasa hening
Semua melangkah menuju masjid itu
Menjalankan ibadah wajibnya
Meminta kepada yang Maha Kuasa
Memohon dengan hati yang bersih
Agar mengampuni segala dosanya
Sesaat terasa hening menyelimuti
Satu dua orang mulai bangkit
Meninggalkan masjid
Setelah doanya selesai di panjatkan

Aku menunggu di serambi
Menanti seseorang muncul di balik pintu
Dan
Akhirnya aku melihatnya
Dia berjalan menghampiriku
Dengan tatapan mata yang lain dari biasa
Dengan tatapan mata yang tajam
Mengarah kepadaku
Dengan wajah yang penuh dengan kecemasan
Dengan tingkah laku yang berbeda
Terlihat ada sesuatu yang di tutupinya
Bibir itu seakan terkunci rapat untuk bersuara
Hanya tatapan mata
Yang mampu menjelaskan

Kau menggenggam tanganku kuat
Berjalan menyusuri jalan
Menuju suatu tempat
Di tengah pusat kota
Di bawah bulan dan bintang
Kau menghentikan langkah
Di tengah kerumunan orang
Kau melepas genggaman tangan
Berbalik badan menatapku
Mata itu seakan berbicara
Mengungkapkan isi kalbu

Aku hanya diam
Tak ada kata yang terucap
Menatapnya penuh arti
Kedua pasang mata bertatap
Seakan mengetahui maksud di balik ini
Tak peduli orang
Kau tetap menatapku dalam-dalam
Mulut yang terkunci itu
Mulai terbuka dengan sendirinya
Kata demi demi kata kau ucapkan
Dengan hati yang bergetar
Dengan suara yang bergetar
Kau mengucapkan sebuah kalimat
Bismillahirahmanirahim
Aku mencintaimu karena Allah

Di bawah sinar bulan
Yang menerangi
Tampak jelas wajahmu
Tersenyum lega manatapku
Sebuah perasaan dari hati
Terungkap sudah
Aku memulai kata-kataku
Dengan menatap mata itu
Sebuah ketulusan terlukis disana
Sebuah kalimat aku ucapkan
Dengan kalimat yang sama
Hari itu
Jumat, 25 September 2015


Selasa, 12 April 2016

Impian Seorang Enterprenur Muslim

Tentunya setiap manusia mempunyai impian dan tujuan hidup yang berbeda. berbagai upaya diperjuangkan untuk menggapainya. Impian tersebut berdasar pada apa yang kita inginkan, karakter kepribadian kita, dan tentunya setiap apa yang kita pandang itu dapat kita manfaatkan untuk mencapai impian. Disini saya ingin menceritakan impian kecil yang selama ini membentuk karakter dan kepribadian seorang manusia supaya dapat memberi manfaat kepada sesama lewat usaha yang saya lakukan dan yang orang lain mau lakukan. Bersama-sama membangun kemandirian ekonomi lewat dunia enterprenur. Terlepas dari itu, tentunya kita umat manusia diciptakan oleh Sang Khaliq didunia tentu ada tujuannya. Yaitu untuk taat beribadah kepadaNya dan berbuat baik kepada sesama umat manusia. 

Selain  kewirausahaan yang membentuk kepribadian saya, keimanan dan akhlaq sangat mempengaruhi karakter seseorang. Itu sebabnya saya memilih nama Great Husna Corporation sebagai branding usaha yang saya kerjakan. Dengan artian Great memiliki makna mendapatkan yang terbaik dan Husna berasal dari Asmaul Husna nama-nama Allah yang Baik. dengan filosofi setiap apa yang kita usahakan mempunyai nilai Ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT
. 
Walaupun usaha yang saya lakukan merupakan usaha tirin temurun dari keluarga besar. Akan tetapi saya mempunyai komitmen untuk mengembangkan apa yang sudah keluarga usahakan selama ini. Semenjak SMA sudah mempunyai keinginan untuk berdagang. Dimulai dari bangku SMA, saya mempunyai seorang teman yang bernama Rahmat Trianto. Dia mempunyai keahlian dalam softwhare smartphone dan mengajarkan banyak hal tentang smartphone. Sayapun mulai usaha kecil - kecilan dengan menjual kartu kuota internet. Bahkan laci meja digunakan untuk meletakkan smartphone yang rusak dan ketika jadwal belajar kosong Rahmat mulai bekerja mengeflash smartphone yang rusak. 

Setelah lulus SMA, saya diberi kepercayaan oleh om yang bernama Dadang Krisbiyanto untuk mengembangkan counter hp yang sudah dirilis sejalan dengan toko kelontong yang dijalaninya. Dalam merintis usaha counter saya juga mengajak teman yang bernama Arif Restu Prasetya yang mempunyai banyak pengalaman dalam jual beli handphone dan Wicak Aji Pangestu yang ingin mencari pengalaman didunia usaha. Akan tetapi Restu mempunyai keinginan mengabdi kepada NKRI, sudah ikut seleksi TNI sebanyak 2 kali akan tetapi belum berhasil. Dan sekarang memilih untuk berwirausaha jual beli kendaraan seperti apa yang dilakukan omnya. Sedangkan Wicak memilih dunia akademisi. 

Inilah langkah awal dari usaha yang saya kerjakan. Seiring berjalannya waktu banyak pengetahuan dan pengalaman yang saya dapatkan. Mulai dari ikut komunitas maupun menganalisis usaha apa yang akan dikembangkan kedepan. Saya mempunyai impian untuk mencetak enterprenur muslim yang mandiri. Mengajak teman - teman maupun orang terdekat untuk mengembangkan minat dan bakat dibidang wirausaha. Dengan berdasarkan nilai - nilai Islam yang dapat bermanfaat kepada sesama manusia.

Rabu, 16 Maret 2016

Belajar Bisnis Sejak Dini

Assallamualaikum Wr. Wb
Semoga Rahmat dan karunia Allah swt selalu dilimpahkan kepada kita semua. 
Sholawat serta salam semoga tetap tercurah kehadirat Rosullullah Muhammad saw yang membawa kita dari jaman jahiliah menuju peradaban yang serba canggih. Tentunya kita semua mengenal sosok suri tauladan kita, Beliau sejak usia muda sudah menjalani kehidupan dengan berdagang. sebelum diangkat menjadi Rossul, beliau merupakan manusia yang jujur, dapat dipercaya dan amanah. Yang dimana pribadi tersebut sangat dibutuhkan dalam dunia usaha. Bahkan Nabi Muhammad saw pernah bersabda yang artinya bahwa 9 dari 10 pintu rezky manusia didunia adalah jual-beli.

Berbicara tentang dunia bisnis, tentu setiap orang menyukainya. karena disetiap sendi - sendi kehidupan terdapat proses berbisnis. Mulai dari bangun tidur sampai tidur pun kita semua banyak menggunakan produk yang diperjual belikan. tentunya seiring berkembangnya kehidupan, manusia berlomba-lomba dalam mencari nafkah dalam jual-beli, dengan berinovasi meningkatkan kreatifitas produk yang ditawarkan dipasar. dipermudah dengan teknologi yang ada sekarang, tentunya manusia dalam menjalankan usaha dapat terbantu dengan mudah. Mulai dari pemasaran, inovasi, menganalisis produk  dan sebagainya dapat kita lakukan dengan genggaman smart phone yang ada.

Dewasa ini, orang yang melakukan usaha dalam dunia bisnis tidak hanya usia yang sudah matang saja. Sudah banyak bermunculan kreativitas anak muda dalam dunia bisnis disegala lini usaha. mereka terdorong melakukan usaha kreatif karena banyak dorongan. Tentunya produk yang dihasilkan anak muda tidak kalah saing dengan produk dari pabrikan yang sudah ada. salah satu contohnya, kita menganalisis dimasyarakat. Banyak bermunculan inovasi-inovasi dalam dunia fasion dan kuliner. Dimana sebagian besar pelaku usaha kreatif tersebut adalah usia muda. Dengan kreatifitas dan kemauan yang dimilikinya, mereka menunjukkan apa yang bisa mereka perbuat untuk dirinya, keluarganya bahkan sampai mengharumkan nama negaranya dikancah dunia bisnis. 

Kebanyakan bisnis anak muda dimulai dari sering ngumpul bareng antar anak muda, yang mempunyai ide dan kemauan untuk mandiri mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Sehingga terbentuklah sebuah komunitas yang mewadahi karya-karya anak muda tersebut, untuk diekspos dan laksanakan untuk menghasilkan usaha.