Ayah
Oleh
Sukmawati
Betapa
hebat dirimu
Melawan
panasnya terik matahari
Mencari
nafkah demi keluarga ini
Demi
sesuap nasi
Demi
menyambung kehidupan
Rasa
lelah tak pernah kau tunjukkan
Walau
sering aku melihat raut wajahmu yang lesu
Diwajah
tuamu itu
Namun….
Kau
tutupi dengan senyuman
Senyuman
kebahagiaan
Rahasia
Hati
Oleh
Sukmawati
Di
ujung jalan aku melihatmu
Kau
duduk di kursi itu
Menanti
kedatanganku
Aku
melihatmu tersenyum
Saat
aku berjalan menghampirimu
Hatiku
bergetar saat duduk di sampingmu
Tak
banyak kata yang terucap
Tatap
matalah yang berbicara
Mengungkap
rahasia
Tentang
perasaan yang sesungguhnya
Harapan
Ibu
Oleh
Sukmawati
Di
dalam kesendirian aku termenung
Bayangan
wajahmu terlintas di benakku
Wajah
yang selalu tersenyum untukku
Dalam
susah ataupun bahagiamu
Namun
aku tau
Banyak
yang tersimpan di balik senyuman itu
Keluh,
kesah dan kesedihan
Pandai
ia sembunyikan
Tatapan
matanya yang sayu
Menatap
penuh arti
Ada
harapan besar terlihat jelas di sana
Harapan
yang selalu ia impikan
Yaitu
diriku
Hujan
Dalam Kenangan
Oleh
Sukmawati
Rintik
hujan bernyanyi merdu
Tersimpan
kenangan di dalamnya
Suasana
syahdu menenangkan jiwa
Tentram
dan damai menyelimuti
Bagai
berpeluk mesra
Dengan
kenyamanan jiwa
Saat
Semua Terjawab
Oleh
Sukmawati
Waktu
menunjukkan pukul 3 sore. Aku mulai bersiap-siap untuk menepati
janji. Janji bertemu seseorang yang lama tak jumpa. Aku berdandan
secantik mungkin agar terlihat menarik dihadapan orang itu. Hatiku
berdebar-debar..entah perasaan apa yang sedang menghujam hati ini.
Aku berdiri di depan cermin. Menatap wajahku dalam-dalam.
"apa
dia juga mempunyai perasaan yang sama dengan apa yang aku rasakan?"
tanyaku sendiri dalam hati.
Entahlah..aku
tidak mau mempermasalahkannya. Aku biarkan perasaan ini tumbuh dengan
indah. Seindah hari ini. Ya..hari ini aku akan bertemu dengannya. Aku
telah lama menanti datangnya hari ini. Tiga tahun sudah dia
meninggalkan kota ini. Andai saja waktu itu dia mengatakan dengan
jelas dan tidak terpotong..aku pasti mendapat kepastian darinya.
tuuuuuutttt...suara
kereta di Stasiun menjemput penumpang yang siap pergi. Mengantarkan
mereka ke kota tujuannya. Aku dan Rano duduk di kursi tunggu. Tak ada
sepatah katapun yang keluar dari mulut kami berdua. Sampai akhirnya
Rano memulai pembicaraan.
"Mil...sebelum
aku pergi. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu". Wajah
Rino terlihat sangat serius menatapku saat itu.
"Bicara
apa? Apa kamu ingin mengucapkan salam perpisahan? hehe..iya aku tau
kok kamu pasti mau bicara itu kan?" jawabku memaksa.
Saat
itu aku berusaha tersenyum dan membuat lelucon di depannya. Padahal
hatiku menangis..tidak rela jika dia harus pergi jauh.
"Bukan
Mil..ada sesuatu hal yang lebih penting dan lebih serius dari itu"
Rano mengucapkan kata-kata itu dengan menatap mataku dalam-dalam.
Aku
berusaha setegar mungkin tidak meneteskan air mata di depannya. Aku
menatapnya jauh lebih dalam.
"Entah
sadar atau tidak..kita sudah banyak melewati waktu berdua.
Seneng-seneng bareng, susah bareng, lucu-lucuan bareng. Inget gak
waktu itu..waktu kita ada diatas menara. Dari atas menara itu. Kita
dapat melihat lautan yang terbentang luas di depan mata. Dan waktu
itu kamu gak berani naik di menara paling atas..gara-gara gak berani
naik tanggakan? takut kalo gak bisa turun. Hahaha dasar..coba aja
waktu itu kamu berani. Pasti pemandangannya jauh lebih bagus"
Rano menghentikan bicaranya dan menatapku sambil tersenyum.
Hehe...aku
tersenyum mendengar cerita Rano tentang diriku itu. Walaupun
sebenarnya mataku sudah berkaca-kaca. Aku berusaha agar air mataku
tidak menetes.
"Tapi
walaupun kamu gak berani naik menara paling atas itu..aku tetap
seneng bisa selalu bersamamu. Mila..aku ingin kamu mengetahui
sesuatu. Aku harap setalah aku mengatakan ini..tidak mengubah
kedekatan diantara kita. Aku ingin..Aku mau..sebenarnya
aku..............."
"Hay
Ranoooooo...." Tiba-tiba ada seseorang yang berteriak memanggil
Rano. Aku dan Rano menoleh kearah datangnya suara itu. Ya..ternyata
segerombolan teman Rano datang untuk mengucapkan salam perpisahan.
Kedatangan
mereka menghentikan pembicaraan diantara kami berdua. Rano tidak
melanjutkan pembicaraannya denganku. Dia asyik ngobrol dengan
teman-temannya itu. Sampai akhirnya Rano pergi tanpa melanjutkan apa
yang belum sempat dia ucapkan padaku.
"Sudahlah..itu
hanya kejadian 3 tahun silam. Mungkin Rano sudah melupakan kejadian
itu" pikirku dalam hati.
"Mau
kemana mbak?" tanya sopir taksi yang ku tumpangi.
"Ke
Stasiun pak" jawabku singkat.
Didalam
taksi, aku bingung apa yang harus aku lakukan saat pertama kali
ketemu Rano nanti. Apa yang harus aku katakan nanti. Pikiranku campur
aduk.
"Mbak
sudah sampai" suara sopir taksi itu mengagetkanku.
"Eh
iya pak" jawabku sambil memberi uang pada sopir taksi itu.
Aku
keluar dari taksi. Kaki ku seakan tidak kuat untuk melangkah. Tapi
aku paksakan kakiku melangkah setapak demi setapak dengan pasti. Aku
memasang mata mencari dari sudut ke sudut. Aku tidak melihat sosok
Rano dimanapun. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk duduk dikursi
yang 3 tahun lalu aku dan Rano duduk dikursi itu. Aku menghela nafas
panjang.
"huufffftttt...sepetinya
Rano udah pulang. Aku telat menjemputnya" kataku dalam hati.
Tiba-tiba
terdengar suara laki-laki memenuhi ruang tunggu yang saat itu sudah
sepi. Hanya beberapa orang yang terlihat masih menunggu dan duduk
dikursi yang lain. Aku sangat mengenal suara itu. Dengan segera aku
menoleh kebelakang.
"Tiga
yang lalu..tepat ditempat ini. Aku berjanji untuk mengatakan sesuatu.
Tapi saat itu..sebelum aku bisa mengatakannya, temen-temenku datang.
Dan aku gak jadi mengatakkan hal ini padamu"
Aku
bangkit dan berjalan menuju Rano berdiri. Aku berdiri tepat
dihadapannya. Mata kami saling tatap. Menatap penuh arti. Ada sesuatu
hal yang disembunyikan. Semua terlihat jelas dari tatapan mata kami.
Tanpa ku sadari aku meneteskan air mata saat Rano mulai berbicara.
Mulutku seakan terkunci dan tidak bisa berkata apapun.
"Hari
ini..aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang sudah lama aku
nantikan. Asal kamu tau Mil..disana aku tidak bisa hidup dengan
tenang. Aku selalu memikirkanmu. Walaupun setiap hari kita saling
bertukar kabar, tapi aku ingin bertemu denganmu dan mengatakan
sesuatu hal yang ingin aku katakan 3 tahun yang lalu secara langsung.
Mila..sejak pertama kali kita bertemu. Aku sudah merasakan hal yang
lain. Aku merasa nyaman saat bersamamu. Aku selalu menanti waktu
berdua bersamamu. Sampai akhirnya aku dengan terpaksa meninggalkan
kota ini karena orang tuaku. Tapi walaupun 3 tahun berlalu. Rasa itu
tidak hilang. Bahkan semakin dalam. Mila...di tempat ini. Di tengah
orang-orang yang melihat kita. Aku ingin kamu tahu satu hal. Aku
mencintaimu...aku mencintaimu karena Allah."
Air
mataku tumpah membasahi pipiku. Tak peduli dengan orang yang
melihatnya. Mulutku terkunci tidak bisa mengeluarkan kata-kata
apapun. Rano menggenggam tangaku erat.
"Mila..maukah
kau mendampingku dan menjadi ibu dari anak-anakku?" tanya Rano
menatapku dalam.
Aku
benar-benar tidak bisa berbicara apapun. Mulutku terkunci. Aku
mengumpulkan tenaga dan menata hati. Aku membuka mulutku dan
keluarlah kata itu dari mulutku.
"Iyaa..aku
mau Rano" jawabku tersedu.
Tidak
peduli dengan orang yang melihat kami berdua. Rano memelukku erat.
Aku membalas pelukkannya. Orang-orang yang melihat kami tersenyum dan
satu persatu meninggalkan kami yang larut dengan kebahagiaan ini.