Rabu, 18 Mei 2016


Ayah
Oleh Sukmawati

Betapa hebat dirimu
Melawan panasnya terik matahari
Mencari nafkah demi keluarga ini
Demi sesuap nasi
Demi menyambung kehidupan
Rasa lelah tak pernah kau tunjukkan
Walau sering aku melihat raut wajahmu yang lesu
Diwajah tuamu itu
Namun….
Kau tutupi dengan senyuman
Senyuman kebahagiaan







Rahasia Hati
Oleh Sukmawati

Di ujung jalan aku melihatmu
Kau duduk di kursi itu
Menanti kedatanganku
Aku melihatmu tersenyum
Saat aku berjalan menghampirimu
Hatiku bergetar saat duduk di sampingmu
Tak banyak kata yang terucap
Tatap matalah yang berbicara
Mengungkap rahasia
Tentang perasaan yang sesungguhnya











Harapan Ibu
Oleh Sukmawati


Di dalam kesendirian aku termenung
Bayangan wajahmu terlintas di benakku
Wajah yang selalu tersenyum untukku
Dalam susah ataupun bahagiamu
Namun aku tau
Banyak yang tersimpan di balik senyuman itu
Keluh, kesah dan kesedihan
Pandai ia sembunyikan
Tatapan matanya yang sayu
Menatap penuh arti
Ada harapan besar terlihat jelas di sana
Harapan yang selalu ia impikan
Yaitu diriku










Hujan Dalam Kenangan
Oleh Sukmawati


Rintik hujan bernyanyi merdu
Tersimpan kenangan di dalamnya
Suasana syahdu menenangkan jiwa
Tentram dan damai menyelimuti
Bagai berpeluk mesra
Dengan kenyamanan jiwa
















Saat Semua Terjawab
Oleh Sukmawati

Waktu menunjukkan pukul 3 sore. Aku mulai bersiap-siap untuk menepati janji. Janji bertemu seseorang yang lama tak jumpa. Aku berdandan secantik mungkin agar terlihat menarik dihadapan orang itu. Hatiku berdebar-debar..entah perasaan apa yang sedang menghujam hati ini. Aku berdiri di depan cermin. Menatap wajahku dalam-dalam.
"apa dia juga mempunyai perasaan yang sama dengan apa yang aku rasakan?" tanyaku sendiri dalam hati.
Entahlah..aku tidak mau mempermasalahkannya. Aku biarkan perasaan ini tumbuh dengan indah. Seindah hari ini. Ya..hari ini aku akan bertemu dengannya. Aku telah lama menanti datangnya hari ini. Tiga tahun sudah dia meninggalkan kota ini. Andai saja waktu itu dia mengatakan dengan jelas dan tidak terpotong..aku pasti mendapat kepastian darinya.
tuuuuuutttt...suara kereta di Stasiun menjemput penumpang yang siap pergi. Mengantarkan mereka ke kota tujuannya. Aku dan Rano duduk di kursi tunggu. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami berdua. Sampai akhirnya Rano memulai pembicaraan.
"Mil...sebelum aku pergi. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu". Wajah Rino terlihat sangat serius menatapku saat itu.
"Bicara apa? Apa kamu ingin mengucapkan salam perpisahan? hehe..iya aku tau kok kamu pasti mau bicara itu kan?" jawabku memaksa.
Saat itu aku berusaha tersenyum dan membuat lelucon di depannya. Padahal hatiku menangis..tidak rela jika dia harus pergi jauh.
"Bukan Mil..ada sesuatu hal yang lebih penting dan lebih serius dari itu" Rano mengucapkan kata-kata itu dengan menatap mataku dalam-dalam.
Aku berusaha setegar mungkin tidak meneteskan air mata di depannya. Aku menatapnya jauh lebih dalam.
"Entah sadar atau tidak..kita sudah banyak melewati waktu berdua. Seneng-seneng bareng, susah bareng, lucu-lucuan bareng. Inget gak waktu itu..waktu kita ada diatas menara. Dari atas menara itu. Kita dapat melihat lautan yang terbentang luas di depan mata. Dan waktu itu kamu gak berani naik di menara paling atas..gara-gara gak berani naik tanggakan? takut kalo gak bisa turun. Hahaha dasar..coba aja waktu itu kamu berani. Pasti pemandangannya jauh lebih bagus" Rano menghentikan bicaranya dan menatapku sambil tersenyum.
Hehe...aku tersenyum mendengar cerita Rano tentang diriku itu. Walaupun sebenarnya mataku sudah berkaca-kaca. Aku berusaha agar air mataku tidak menetes.
"Tapi walaupun kamu gak berani naik menara paling atas itu..aku tetap seneng bisa selalu bersamamu. Mila..aku ingin kamu mengetahui sesuatu. Aku harap setalah aku mengatakan ini..tidak mengubah kedekatan diantara kita. Aku ingin..Aku mau..sebenarnya aku..............."
"Hay Ranoooooo...." Tiba-tiba ada seseorang yang berteriak memanggil Rano. Aku dan Rano menoleh kearah datangnya suara itu. Ya..ternyata segerombolan teman Rano datang untuk mengucapkan salam perpisahan.
Kedatangan mereka menghentikan pembicaraan diantara kami berdua. Rano tidak melanjutkan pembicaraannya denganku. Dia asyik ngobrol dengan teman-temannya itu. Sampai akhirnya Rano pergi tanpa melanjutkan apa yang belum sempat dia ucapkan padaku.
"Sudahlah..itu hanya kejadian 3 tahun silam. Mungkin Rano sudah melupakan kejadian itu" pikirku dalam hati.
"Mau kemana mbak?" tanya sopir taksi yang ku tumpangi.
"Ke Stasiun pak" jawabku singkat.
Didalam taksi, aku bingung apa yang harus aku lakukan saat pertama kali ketemu Rano nanti. Apa yang harus aku katakan nanti. Pikiranku campur aduk.
"Mbak sudah sampai" suara sopir taksi itu mengagetkanku.
"Eh iya pak" jawabku sambil memberi uang pada sopir taksi itu.
Aku keluar dari taksi. Kaki ku seakan tidak kuat untuk melangkah. Tapi aku paksakan kakiku melangkah setapak demi setapak dengan pasti. Aku memasang mata mencari dari sudut ke sudut. Aku tidak melihat sosok Rano dimanapun. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk duduk dikursi yang 3 tahun lalu aku dan Rano duduk dikursi itu. Aku menghela nafas panjang.
"huufffftttt...sepetinya Rano udah pulang. Aku telat menjemputnya" kataku dalam hati.
Tiba-tiba terdengar suara laki-laki memenuhi ruang tunggu yang saat itu sudah sepi. Hanya beberapa orang yang terlihat masih menunggu dan duduk dikursi yang lain. Aku sangat mengenal suara itu. Dengan segera aku menoleh kebelakang.
"Tiga yang lalu..tepat ditempat ini. Aku berjanji untuk mengatakan sesuatu. Tapi saat itu..sebelum aku bisa mengatakannya, temen-temenku datang. Dan aku gak jadi mengatakkan hal ini padamu"
Aku bangkit dan berjalan menuju Rano berdiri. Aku berdiri tepat dihadapannya. Mata kami saling tatap. Menatap penuh arti. Ada sesuatu hal yang disembunyikan. Semua terlihat jelas dari tatapan mata kami. Tanpa ku sadari aku meneteskan air mata saat Rano mulai berbicara. Mulutku seakan terkunci dan tidak bisa berkata apapun.
"Hari ini..aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang sudah lama aku nantikan. Asal kamu tau Mil..disana aku tidak bisa hidup dengan tenang. Aku selalu memikirkanmu. Walaupun setiap hari kita saling bertukar kabar, tapi aku ingin bertemu denganmu dan mengatakan sesuatu hal yang ingin aku katakan 3 tahun yang lalu secara langsung. Mila..sejak pertama kali kita bertemu. Aku sudah merasakan hal yang lain. Aku merasa nyaman saat bersamamu. Aku selalu menanti waktu berdua bersamamu. Sampai akhirnya aku dengan terpaksa meninggalkan kota ini karena orang tuaku. Tapi walaupun 3 tahun berlalu. Rasa itu tidak hilang. Bahkan semakin dalam. Mila...di tempat ini. Di tengah orang-orang yang melihat kita. Aku ingin kamu tahu satu hal. Aku mencintaimu...aku mencintaimu karena Allah."
Air mataku tumpah membasahi pipiku. Tak peduli dengan orang yang melihatnya. Mulutku terkunci tidak bisa mengeluarkan kata-kata apapun. Rano menggenggam tangaku erat.
"Mila..maukah kau mendampingku dan menjadi ibu dari anak-anakku?" tanya Rano menatapku dalam.
Aku benar-benar tidak bisa berbicara apapun. Mulutku terkunci. Aku mengumpulkan tenaga dan menata hati. Aku membuka mulutku dan keluarlah kata itu dari mulutku.
"Iyaa..aku mau Rano" jawabku tersedu.
Tidak peduli dengan orang yang melihat kami berdua. Rano memelukku erat. Aku membalas pelukkannya. Orang-orang yang melihat kami tersenyum dan satu persatu meninggalkan kami yang larut dengan kebahagiaan ini.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar